Sat. Jul 11th, 2020

Ini Cerita Pesawat N250 (61) Tahun 1998

                                   

Assalamualaikum semua …

Program N250 akhirnya dihentikan pada tahun 1998. Prototipe pertama (PA-1) dan prototipe kedua (PA-2) pun di-grounded tahun 2000.

Sebenarnya, walaupun pembangunan pesawat terbang tersebut dibekukan, PA-1 dan PA-2 masih melanjutkan uji terbang sampai akhir tahun 1999. Dananya dari internal Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN), meski situasi dan kondisi perusahaan belum membaik.

Sungguh membanggakan karena semua karakteristik terbang yang diujikan pada PA-1 dan PA-2 terbukti sesuai dengan design requirements and objectives (DR&O)-nya. Namun sayang, karena harga material yang melonjak tinggi, pengembangan kedua prototipe pesawat itu pun dihentikan juga.

Momen paling menyakitkan bagi orang-orang yang terlibat dalam program N250 adalah ketika Pemerintah Republik Indonesia dan International Monetary Fund (IMF) menandatangani letter of intent (LoI). LoI ini ditandatangani Presiden Soeharto dan Direktur IMF Michael Camdessu di Jakarta pada 15 Januari 1998.

LoI itu memuat klausul yang menyatakan bahwa dana anggaran dan non anggaran yang digunakan untuk program-program IPTN harus dihentikan. Akibatnya, dana untuk program N250 dan Aerial Navigation Satellite System terhenti.

Dari LoI itu, lantas pemerintah mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 3 Tahun 1998 tertanggal 21 Januari 1998. Isinya, menghentikan pemberian bantuan keuangan kepada IPTN dan fasilitas kredit yang dijamin pemerintah kepada IPTN.

Kita tahu bahwa IPTN sebagai pusat keunggulan teknologi itu masih memerlukan banyak kucuran dana pemerintah. Apalagi untuk program N250 yang sedang mengejar terpenuhinya jam terbang untuk sertifikasi.

“Saya tidak tahu, kenapa dalam LoI itu ditunjuk langsung IPTN. Itu hasil perundingan para ekonom Indonesia dan IMF,” ujar Jusman Sjafii Djamal, ketika ditemui di Jakarta pada Oktober 2013.

Menurut pendapatnya, N250 dihentikan bukan karena tekanan dari luar negeri, dalam hal ini IMF, tapi dari pihak Indonesia. “Semua ekonom waktu itu kan mengatakan bahwa pembangunan industri pesawat terbang merupakan proyek mercusuar yang sia-sia. Kata mereka, industri pesawat terbang di Indonesia adalah sesuatu yang tidak perlu,” ungkap Jusman.

BJ Habibie menanggapi pula pernyataan “sumbang” itu dalam “Kongres Kedirgantaraan Nasional” di Jakarta pada 3 Februari 1998. “Mengapa IPTN lalu dikatakan bikin bangkrut negara? Apa alasan logisnya?” (Angkasa No.6 Tahun VIII Maret 1998).

Apa kata Habibie tentang IPTN? Besok bahasannya dalam cerita keenam puluh dua (62) ya.