Mon. Jul 13th, 2020

Ini Cerita Pesawat N250 (60) Krincingwesi Terbang Perdana

                                   

Assalamualaikum semua …

Suasana pagi pada 19 Desember 1996 terasa beda dengan pagi-pagi yang lain. Sejumlah karyawan Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) sibuk di area sekitar prototipe kedua (PA-2) N250 Krincingwesi bercat hijau yang siap terbang.

Suasana pagi itu memang beda pula dengan suasana pagi ketika PA-1 Gatotkoco terbang perdana pada 10 Agustus 1995. Tidak ada kemeriahan karena banyaknya orang dan ketatnya penjagaan. Undangan tetap ada, tapi tak sebanyak sebelumnya.

Sekitar pukul 09.00, Direktur Utama IPTN BJ Habibie mendarat dengan helikopter Super Puma, didampingi Menteri Perhubungan Haryanto Dhanutirto, Wakil Kepala Bappenas Rahardi Ramelan, dan beberapa pejabat lain. Habibie pun langsung menginspeksi pesawat serta kesiapan awak pesawat dan para insinyur.

Sesuai prosedur standar, Dirut IPTN mendapatkan sertifikat khusus kelaikan udara yang memberi izin penerbangan dari Menteri Perhubungan. Izin diberikan sehari sebelumnya, setelah tim IPTN bersama tim Test Review Board yang dibantu personel Airbus memberi lampu hijau bagi pelaksanaan penerbangan perdana PA-2.

Lampu hijau itu kemudian dilaporkan kepada Ketua Dewan Pembina Badan Pengelola Industri Strategis (BPIS), Presiden Soeharto, pada 18 Desember 1996 malam. Presiden mengizinkan PA-2 terbang perdana esok harinya. Nama “Krincingwesi”, nama lain Gatotkoco muda, juga diberikan Presiden untuk PA-2.

Pilot Capt Erwin Danuwinata bersama Capt Adi Budi Setiawan Atmoko didampingi dua engineer, Dono dan Satria Nugraha, bersiap. Pada pukul 09.23, mesin kanan mulai dihidupkan, disusul mesin kiri. Tiga menit kemudian, pesawat mulai bergerak ke landasan taksi (taxiway).

Tepat pukul 09.30 WIB pada hari Kamis 19 Desember 1996 itu, pesawat N250-100 Krincingwesi lepas landas dari landasan pacu Bandara Husein Sastranegara, Bandung. Tepuk tangan seluruh hadirin memberikan semangat bahwa penerbangan bakal berhasil.

Rencananya, pesawat akan terbang pada ketinggian 10.000-25.000 kaki. Namun kemudian diputuskan bahwa penerbangan hanya sampai ketinggian 10.000 kaki. Sembilan menit setelah lepas landas, kecepatannya mencapai 260 knot/jam (470km/jam). Area terbangnya di wilayah Bandung, Cianjur, Garut, dan Majalaya.

Dalam penerbangan itu, PA-2 melakukan serangkaian uji terbang yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Pengujian dibagi-bagi dalam 22 sequence.

Pesawat Soko Galeb terbang mengikuti Krincingwesi dan mengambil gambar videonya. Gambar ini ditayangkan langsung ke layar monitor di menara pengawas. Ada enam layar monitor di sana yang menayangkan berlangsungnya penerbangan N250-100 itu. Layar ditonton oleh para insinyur dan undangan.

Gambar-gambar tersebut mulai muncul di layar monitor pada pukul 09.44. Pembicaraan antara pimpinan pengujian dengan pilot uji juga dilakukan. Kemudian terlihat pesawat melakukan uji mengeluarkan roda pendarat pada pukul 09.57.

Pada pukul 11.07 dilakukan simulasi pendaratan bersama PA-1 Gatotkoco. Krincingwesi pun mendarat tepat pukul 11.10 atau tiga menit setelah simulasi. Penerbangan perdana, termasuk untuk pengujian, itu berlangsung 1 jam 40 menit.

Tepuk tangan panjang dari hadirin pun kembali mewarnai suksesnya penerbangan perdana PA-2. Perasaan lega tampak pula pada wajah-wajah mereka yang menyaksikan penerbangan itu. “Well done!” seru Habibie.

Sewaktu PA-2 terbang, Habibie bersama Haryanto dan Rahardi berada di ruang pengawas. Mereka mengikuti jalannya uji terbang yang dipimpin oleh Mission Director, Said D Jenie.

Krisis terjadi, bagaimana nasib N250? Kisahnya di cerita keenam puluh satu (61) ya.