Ini Cerita Pesawat N250 (6)

Assalamualaikum semua …

Disebutkan sebelumnya pada cerita keempat (4) bahwa pada Mei 1989, BJ Habibie dalam suatu rapat direksi Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) menugaskan Direktur Teknologi IPTN Harsono Juned Pusponegoro untuk membentuk tim feasibility study pembuatan pesawat terbang pengganti CASA 212. Harsono kemudian memerintahkan Kepala Subdit Aerodinamika IPTN, Djoko Sartono, untuk memulai studi itu.

Di bawah Subdit Aerodinamika ada bidang Preliminary Design, yang dipimpin Jusman Sjafii Djamal. “Pengembangan produk baru masuknya kepada saya. Namanya, aerodynamic configuration development. Dalam bidang ini ada pengembangan produk baru, pengembangan konfigurasi aerodinamika, dan studi kelayakan,” ujar Jusman.

Dua bulan setelah rapat direksi itu, pada suatu hari bulan Juli 1989, Habibie datang ke meja kerja Jusman. Menurut Jusman, Habibie memang kerap datang ke IPTN untuk meninjau pabrik yang sedang dikembangkannya. Terkadang ia mampir kebagian produksi dan kali lain ke ruang kerja para engineer.

Waktu itu, Jusman sedang di depan komputer besar. Komputer ini untuk gambar desain pesawat terbang (aero design) dan perhitungan-perhitungan pembuatannya. Di ruang itu ada juga Edisan Edward dan Mariani yang sedang mengobrol.

Bahu Jusman ditepuk Habibie, “Lagi mengerjakan apa, Pak Jusman?”

“Oh, biasa, Pak,” spontan Jusman menjawab, seraya dalam hati bicara, ” Wah, kayak suara Pak Habibie?” Ternyata memang Habibie yang mengajaknya berbincang.

Habibie cerita bahwa ia baru pulang dari Jerman dan bertema teman-temannya. “Ini saya bawa buku dan kasih ke kamu.” Buku berbahasa Jerman itu tentang super critical airfoil. Isinya tentang bentuk-bentuk airfoil, yang jika dibentuk dengan bagus akan menjadi sayap pesawat terbang dengan berbagai variasinya.

“Kamu baca. Nanti hasilnya presentasikan sama saya,” kata Habibie berdasarkan cerita Jusman.

Dua minggu kemudian, Habibie datang lagi ke meja Jusman. “Man, mana yang sudah kamu buat?” Jusman kemudian memperlihatkan rancangannya berupa pesawat terbang dengan sayap yang dibuat dari hasil membaca buku tersebut.

Dari situlah lantas terbentuk gagasan. Habibie membuat sketsa gambar, sambil berujar, “Nanti kita buat pesawat dengan falsafah Airbus karena falsafahnya itu saya yang bangun dan kembangkan. Pesawat terbang itu harus memiliki konsep keluarga atau family.”

Pesawat yang dibuat itu untuk 30 penumpang, tapi harus bisa menjadi 50 dan 70 penumpang. Bentuk hidung pesawat satu desain, tapi belakangnya bisa diperpanjang. Namun setiap stretched version itu juga bisa beda dengan konsep yang unik, walaupun hidung dan badan, juga sayap, sama.

Setiap versi memiliki karakteristik dan keunggulan masing-masing. Istilah Habibie, pesawat harus dibuat beyond customer. Customer atau pelanggan industri pesawat terbang itu adalah operator atau maskapai penerbangan. Nah, kalau beyond customer itu adalah penumpang yang akan merasakan kenyamanan dari rancangan pesawat terbang itu.

“Kamu belajar tentang itu,” kata Habibie kepada Jusman.