Sat. Jul 11th, 2020

Ini Cerita Pesawat N250 (59) Kelebihan Krincingwesi

                                   

Assalamualaikum semua …

Pesawat N250 Krincingwesi merupakan hasil pengembangan dari N250 Gatotkoco. BJ Habibie mengatakan, prototipe kedua (PA-2) Krincingwesi memiliki sejumlah kelebihan dibandingkan PA-1 Gatotkoco.

Untuk membuatnya dibutuhkan biaya pengembangan yang nilainya sekitar 50juta dollar AS atau setara Rp115miliar pada waktu itu. PA-2 dikerjakan oleh para insinyur Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) dalam 16 bulan.

Semula, Krincingwesi dijadwalkan terbang pada Mei 1996, tapi ditunda karena Federal Aviation Administration (FAA) Amerika Serikat menghendaki adanya modifikasi. IPTN pun menyetujuinya dan memodifikasi PA-2 N250 itu. Hasilnya, PA-2 memiliki panjang badan 1,524 meter lebih panjang dari panjang badan PA-1 dan mampu mengangkut 68 penumpang.

Daya angkutnya memang lebih besar, tapi bobotnya lebih ringan 1 ton daripada PA-1. Sebabnya, tata letak struktur pada pesawat PA-2 dirancang lebih efisien.

Krincingwesi juga memiliki desain struktur yang lebih halus. Salah satu contohnya adalah Auxiliary Power Unit (APU) di bagian ekor pesawat tak lagi “telanjang” tapi dibungkus metal sehingga tampil lebih manis.

Selanjutnya dalam 18 bulan ke depan, IPTN akan membuat PA-3 yang berbeda dengan PA-1 dan PA-2. Habibie menyebut PA-3 ini adalah N270 dengan kapasitas 72 penumpang.

Panjang badan PA-3 dibuat lebih panjang lagi atau 3 meter lebih panjang dibandingkan dengan PA-1. Biaya pengembangan PA-3 adalah antara 50juta-100juta dollar AS.

Sampai pembangunan PA-3, kata Habibie, dana untuk program N250 akan mencapai sekitar 660juta dollar AS atau setara Rp1,5triliun. Dana riset dan pengembangan, berikut bunganya, akan terbayar ketika penjualan N250 mencapai titik impas pada angka 259 pesawat yang terjual.

Selesai modifikasi, PA-2 pun siap terbang. Walau tidak jadi bulan Mei, tapi akhirnya bisa terbang perdana pada 19 Desember 1996. Ceritanya di cerita keenam puluh (60) ya.