Mon. Jul 13th, 2020

Ini Cerita Pesawat N250 (57) Manuver di Le Bourget

                                   

Assalamualaikum semua …

Pada hari pertama Paris Air Show 1997, arena dipenuhi tokoh kedirgantaraan dunia. Hadir pula Presiden Prancis, Jacques Chirac, yang berkenan membuka pameran dirgantara internasional itu.

Masuk waktu flying display, langit Le Bourget bergemuruh. Ditingkahi pesawat-pesawat yang berlaga unjuk kepiawaian terbang dan kecanggihan mesin, tak terkecuali pesawat N250.

Pilot uji Letkol Pnb Sumarwoto dan Capt John Bolton mendapat kesempatan pertama untuk menerbangkan Sang Gatotkoco. Kata Sumarwoto, mereka sempat berlatih terbang low-speed, hi-speed, dan wing-over untuk menunjukkan kelincahannya. Tidak seperti pesawat tempur, manuver pesawat transpor memang terbilang sederhana.

Pesawat pun terbang dengan tenang dan tampak penuh percaya diri. Unjuk kebolehan dalam berbagai manuver menarik perhatian massa yang menyaksikannya.

Awak kokpit N250 terbang low-speed, hi-speed, dan wing-over, juga menampilkan terbang dengan faktor turning-radius kecil. Dalam penerbangan transpor, kecilnya turning-radius biasa digunakan sebagai indikator kelincahan pesawat. N250 mengatraksikannya dengan sukses!

Sayangnya, BJ Habibie tak bisa menyaksikan demo terbang N250 yang monumental itu. Dia sedang rapat dengan para pakar penerbangan asing dan hanya melihatnya menjelang mendarat.

Pada saat itu, hadirin berhamburan ke luar arena tertutup untuk menyaksikan Sang Gatotkoco hendak mendarat. Tampak ekor N250 berhias logo besar “IPTN” dan bagian belakang pesawat yang penuh logo pemesannya ketika pesawat meluncur di landasan.

“Mereka bertepuk tangan dengan meriah dan memberi ucapan selamat,” ucap Habibie, termasuk ucapan selamat dari Presiden Chiraq.

Gemuruh tepuk tangan juga memeriahkan challet Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) usai N250 terbang perdana di Le Bourget. Kala itu, challet dipadati tamu dan wartawan.

Pada Paris Air Show yang berlangsung 15-22 Juni 1997, setiap hari N250 unjuk terbang di angkasa Le Bourget. Bagi tim majalah Angkasa yang berada di sana, menyaksikan Sang Gatotkoco bermanuver dan mendengar dari pengeras suara uraian tentang N250 dan siapa yang menerbangkannya, sungguh punya kesan mendalam.

Di stand statik, N250 mendapat tempat persis di depan stand Airbus dan Eurocopter, industri kedirgantaraan milik tuan rumah. Di sebelahnya berjajar pesawat ATP buatan British Aerospace (BAe) dan Airbus A319.

Prototipe pertama (PA-1) N250 merupakan satu dari 200 pesawat terbang di seluruh dunia yang dipamerkan di sana. Dibandingkan yang lain, tampilannya menarik perhatian dari awal hingga akhir pameran.

N250 safari terbang di cerita kelima puluh delapan (58) besok ya.