Mon. Jul 13th, 2020

Ini Cerita Pesawat N250 (55) Ferry Flight Husein-Le Bourget

                                   

Assalamualaikum semua …

Bandung diliputi keheningan pagi, ketika N250 Gatotkoco dikeluarkan dari hanggar Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN). Lalu tepat pukul 07.00 WIB pada Selasa, 10 Juni 1997 itu, engine run up dan pesawat siap mengangkasa; lepas landas dari Bandara Husein Sastranegara, Bandung.

Kendali tim N250 dipercayakan pada Kolonel Pnb Chris Sukardjono. Didampingi oleh Letkol Pnb Sumarwoto, Capt Adi Budi Setiawan Atmoko, dan Capt John Bolton, juga Hindawan Hariowibowo, Nurcholis, dan Yuares Riady. Mereka menjadi awak penerbangan prestise Bandung-Paris itu.

Etape pertama adalah terbang rute Bandung-Batam dengan kendali dipegang Chris dan Adi Budi. Dilanjutkan pada siang hari dengan rute Batam-Bangkok, Thailand. Rencananya, penerbangan akan dilanjutkan lagi ke Calcuta, India.

“Namun hari itu kami terpaksa menginap di Bangkok karena flight clearance atau security clearance dari India terlambat terbit,” kata Sumarwoto (Angkasa No.10 Tahun VII Juli 1997).

Esok pagi harinya, N250 terbang ke Calcuta dan siang berlanjut ke Mumbai, India. Selanjutnya, pesawat terbang melintasi lautan menuju Muscat, ibukota Kesultanan Oman di Jazirah Arab.

Di Muscat, N250 mendapat “cobaan”; dihantam hamparan awan dingin nan pekat. Akibatnya, ketika menjelajah angkasa di ketinggian 20.000-22.000 kaki, leading edge pesawat membeku (icing).

Icing memang biasa terjadi kalau kita terbang di atas 20.000 kaki. Kami tak gugup menghadapinya,” kata Chris, yang kala itu kendali di tangannya bersama Adi Budi. Chris adalah pilot uji yang berasal dari Skadron 2, 31, dan 17 TNI AU, yang bergabung dengan IPTN sejak tahun 1976.

Sebenarnya icing bisa berakibat buruk. Gumpalan es pada sayap dapat memperbesar gaya hambat (drag), sehingga mengurangi gaya angkat (lift) pesawat terbang. Namun hal itu bisa diatasi dengan mudah karena pesawat sudah dilengkapi peralatan anti-icing dan de-icing, walaupun PA-1 ini belum pernah menjalani uji icing.

“Kasus yang kami alami di tengah perjalanan itu tentu akan menjadi rujukan, berkenaan dengan sertifikasinya,” ujar Chris (Angkasa No.12 Tahun VII September 1997).

Malamnya, N250 terbang rute Muscat-Riyadh, Saudi Arabia, dan bermalam di sini. Pada 12 Juni, N250 dari Riyadh bertolak ke Iskandariah, di tepi Laut Tengah, Mesir. Laut Tengah pun diseberangi pada siang hari, lantas singgah di Brindisi, Italia.

Penerbangan etape terakhir adalah rute Brindisi-Le Bourget, bandara tempat Paris Air Show digelar. Pada Kamis malam atau 14 Juni 1997 pukul 21.00, ketika cuaca masih terang, N250 Gatotkoco mendarat dengan mulus.

Tuntas sudah penerbangan sejauh sekitar 13.500 kilometer itu, yang ditempuh dalam waktu sekitar 32 jam terbang. Selama penerbangan, kendali N250 dipegang bergantian oleh para pilot uji tersebut. Penerbangannya pun terbilang lancar.

Bagaimana evaluasi penerbangannya? Lanjut besok dalam cerita kelima puluh enam (56) ya.