Fri. May 29th, 2020

Ini Cerita Pesawat N250 (53) Pamer di Paris Air Show 1997

                                   

Assalamualaikum semua …

Penampilan N250 memiliki arti sangat penting di Paris Air Show 1997. Di pameran kedirgantaraan internasional ke-42 pada 15-20 Juni 1997 di Le Bourget dekat Paris itu, kehadiran Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) menorehkan peristiwa besar, bahkan bersejarah.

Indonesia mampu menampilkan dengan cantik dua produknya, yaitu pesawat penumpang N250 dan pesawat patroli maritim CN235MPA (Maritime Patrol Aircraft). N250 memang membuat debut di pameran bergengsi ini, di samping CN235MPA, juga Embraer EMB 145, pesawat jet 50 penumpang buatan Embraer, Brazil, dan Canadair Regional Jet (CRJ) 700, pesawat jet 70 penumpang produksi Bombardier Aerospace, Kanada.

EMB 145 dan CRJ 700 merupakan pesaing N250. Walaupun keduanya pesawat jet, sementara N250 pesawat turboprop, ketiga pesawat ini dikategorikan berada dalam satu kelas, termasuk juga ATR 72. Salah satu kelebihan N250 adalah memiliki sistem kendali fly-by-wire dengan kecepatan terbang 330knot/mil menyamai pesawat jet (turbofan) penumpang.

IPTN juga memiliki kejutan lain dengan menegaskan rencananya untuk membuat suatu keluarga pesawat yang rentang kapasitasnya dari 20 hingga 150 penumpang. BJ Habibie mengatakan, pengalaman merancang dan membuat pesawat CN235 dan N250 tengah dimanfaatkan untuk pengembangan pesawat jet N2130 berkapasitas 100-150 penumpang.

Debut N250 dan CN235MPA tidak berhenti di Le Bourget. Setelah Paris Air Show, keduanya terbang berkeliling ke sejumlah negara di Eropa dan Timur Tengah.

Habibie menuturkan, penampilan N250 di Le Bourget dan sejumlah negara di Eropa itu untuk memperlancar peraihan sertifikasi internasional dari Civil Airworthiness Authority (CAA) Inggris, yang meliputi juga negara-negara Persemakmurannya. Langkah berikutnya adalah memperoleh sertifikasi dari Joint Airworthiness Authority (JAA), yang meliputi 26 negara di Eropa.

Selanjutnya, N250 akan berjuang untuk mendapatkan sertifikasi dari Federal Aviation Administration (FAA) AS. Tentu saja sertifikasi dari otoritas Indonesia, yakni Direktorat Sertifikasi dan Kelaikan Udara (DSKU) harus dimiliki terlebih dahulu.

Terbang perdana N250 Gatotkoco di Paris Air Show 1997 merupakan terobosan dari suatu negara di Asia dalam sejarah pameran kedirgantaraan Le Bourget. Pertama kalinya suatu negara di Asia menampilkan pesawat penumpang komersial paling canggih di kelasnya. Inilah strategi merebut pasar internasional pada masa depan.

Bagaimana cerita penerbangan N250 dari Bandung ke Paris? Cerita kelima puluh empat (54) akan memaparkannya ya.