Fri. May 29th, 2020

Ini Cerita Pesawat N250 (51) Mampukah Dipasarkan?

                                   

Assalamualaikum semua …

Pesawat N250 sudah nyata bisa terbang. Namun apakah karya anak bangsa ini menarik minat investor dan operator penerbangan di dalam dan luar negeri? Mampukah para ujung tombak pemasarannya meraih target penjualan 707 unit N250 dalam waktu antara tahun 2000-2020?

Tantangan berat itu memacu seluruh personel yang terlibat dalam program N250 untuk kian gencar memasarkannya. Termasuk para pejabat Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN), bahkan pejabat tinggi negara, yang seharusnya giat memromosikannya.

Tahun Emas atau 50 tahun kemerdekaan Republik Indonesia menyisakan kenangan manis bagi N250. Masih tergambar dengan jelas ketika Sang Gatotkoco berhasil terbang untuk pertama kali disaksikan ribuan mata publik.

Namun bagi bisnis penerbangan nasional kala itu, berbagai peristiwa tidak mengenakkan terjadi dan berbuntut kisruh. Peristiwa pahit paling melelahkan adalah ketika Merpati Nusantara Airlines menolak sewa-beli 16 CN235 dan kontrak-sewa delapan Fokker F-28. Meski demikian, peta dirgantara Indonesia tahun 1995 itu cukup dinamis.

Memasuki tahun 1996, industri dan bisnis penerbangan dituntut kian dinamis. Dalam Keppres Nomor 60 Tahun 1992 tentang Dekade Kunjungan Indonesia memang diputuskan bahwa tahun 1996 sebagai Tahun Dirgantara dan Bahari.

Momen yang sudah dicanangkan adalah penyelenggaraan Indonesia Air Show (IAS) 1996 . Tahun ini juga ditargetkan sebagai waktu kelahiran varian N250 Gatotkoco, yakni Krincingwesi, Koconegoro, dan Putut Guritno, pada Mei, Juli, dan September.

N250 bakal diperkenalkan secara resmi di IAS 1996. Pameran kedirgantaraan yang berlangsung 21-30 Juni itu akan dimeriahkan 500 partisipan dan 250.000 pengunjung. Perhelatan IAS kedua, setelah yang pertama tahun 1986 di Kemayoran Jakarta itu, digelar dalam area seluas 70 hektare di sisi kanan Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng.

Selanjutnya N250 bakal dihadirkan di Paris Air Show 1997. Di pameran kedirgantaraan internasional ke-42 di Le Bourget dekat Paris ini ditampilkan juga CN235 MPA (Maritime Patrol Aircraft).

Seperti dipertanyakan di atas, mampukah tenaga-tenaga komersial IPTN meraih target penjualan 707 unit N250 dalam kurun waktu 20 tahun? Membuka sisi komersialisasi ternyata tak lebih mudah dari membuat pesawat terbang itu sendiri. Memasarkannya menuntut ketekunan, keluwesan, dan kepiawaian berbicara.

Bagaimana N250 di IAS 1996? Lebih terinci lagi dalam cerita kelima puluh dua (52) ya.