Ini Cerita Pesawat N250 (5)

Assalamualaikum semua …

Dikisahkan sebelumnya bahwa pesawat terbang pengganti CASA 212 yang digagas BJ Habibie tidak lagi yang berkapasitas 30 penumpang, tapi 50 penumpang. Maka jadilah namanya, “N250”.

Dalam rencananya, pada era tahun 2000-an, pesawat N250 mulai diproduksi. Pada masa itu diprediksi bahwa pasar penerbangan Indonesia bakal tumbuh. Pada saat itu, kata mereka, Indonesia pasti memerlukan pesawat-pesawat sekelas yang sedang mereka bangun itu.

Bahkan kemudian analisis pasar mengungkap bahwa akan dibutuhkan pesawat terbang berkapasitas 50-70 penumpang dengan jumlah banyak. Tak meleset karena terbukti pada era 2000-an dan 2010-an, pesawat terbang berkapasitas di atas 50 penumpang dan di bawah 100 penumpang banyak dipesan maskapai penerbangan, khususnya di Indonesia, sebagai feeder.

Lion Air Group misalnya, sudah mendatangkan lebih dari 80 pesawat ATR 72-500/600 berkapasitas 70 penumpang, lebih dari 65 pesawat dioperasikan Wings Air. Belum lagi maskapai lain, seperti Garuda Indonesia, NAM Air, dan Trigana Air, yang juga mengoperasikan pesawat terbang yang konsepnya sama atau mirip dengan N250 itu.

Tak dipungkiri pula kalau pesawat terbang bermesin jet berbadan sedang (narrow body) berkapasitas 100-200 penumpang merajai bisnis penerbangan dunia. Armada ini dioperasikan maskapai berkonsep no frill ataupun low cost carrier (LCC).

Kita tak akan lupa bahwa Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) juga sudah membuat konsep rancangan pesawat terbang jet berkapasitas 130 penumpang. Namanya, N2130. Perancangan pesawat yang proyeknya dipimpin Ilham Akbar Habibie, putra sulung BJ Habibie ini dimulai tahun 1996. Namun seperti juga pembangunan N250, proyek N2130 pun diakhiri tahun 2001.

Pesawat N2130 baru tahap desain awal (preliminary design), tapi konsepnya sudah mendunia. Putra-putri bangsa Indonesia yang terlibat dalam proyek ini sekarang menjadi bagian dari awak industri pesawat terbang yang diproduksi oleh manufaktur pesawat terbang dunia.

Banyak hal yang bisa menjadi hikmah dari apa yang sudah terjadi. Tentu pula hal-hal tersebut merupakan pengalaman berharga dan sebaiknya menjadi pelajaran bernilai.

Kita sambung besok pada cerita keenam (6), ya.