Fri. May 29th, 2020

Ini Cerita Pesawat N250 (49) Shadow Certification

                                   

Assalamualaikum semua …

Untuk mencapai target sertifikasi N250 pada tahun 1997, dalam prosesnya berlangsung shadow certification. Artinya, Direktorat Sertifikasi dan Kelaikan Udara (DSKU) Ditjen Perhubungan Udara dibayangi secara ketat oleh Federal Aviation Administration (FAA).

“Dalam proses sertifikasi itu, DSKU bertanya, tapi yang bertanya sesungguhnya adalah FAA,” ungkap Said D Jenie, Vice President Divisi Flight Test Center (Angkasa No.10 Tahun V Juli 1995).

Dalam posisi tersebut, DSKU diaudit oleh FAA, baik organisasi, sumber daya manusia, peraturan, prosedur, kemampuan, maupun fasilitasnya. Audit juga menyangkut langkah DSKU mengadopsi 11 bab peraturan FAA, yang disebut Federal Aviation Regulations (FAR).

Kesebelas FAR itu dimasukkan ke dalam bab Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil (PKPS) atau Civil Aviation Safety Regulations (CASR). Dengan demikian, ada dua proses yang berjalan paralel; sertifikasi N250 dan peningkatan kemampuan DSKU sebagai dasar untuk Bilateral Airworthiness Agreement (BAA) antara Amerika Serikat dan Indonesia.

“Dengan shadow certification itu, DSKU dilatih oleh FAA sebagai dasar pemberian BAA,” jelas Said.

Waktu itu, DSKU dengan perubahannya dibangun agar sesuai dengan FAA. “Sebenarnya IPTN (Industri Pesawat Terbang Nusantara) juga ingin memperoleh sertifikasi Eropa, yang waktu itu masih JAA (Joint Airworthiness Authority),” kata Herry Bakti, yang pada waktu itu menjadi Direktur DSKU.

Untuk perubahan dan peningkatan kemampuan DSKU, para personelnya mendapatkan pelatihan di FAA dan Internasional Civil Aviation Organization (ICAO). Siapa saja yang ikut pelatihan itu? “Awalnya Budi (Budi Suyitno, pernah jadi Dirjen Perhubungan Udara), terus saya,” ucap Herry.

Sungguh disayangkan proses yang sudah berjalan lebih dari setengah jalan itu harus dihentikan. Pada saat krisis moneter, semua bantuan International Monetary Fund (IMF) untuk Indonesia dihentikan, termasuk program N250.

Herry menjelaskan, “Pak Habibie mengirimkan surat bahwa program N250 dihentikan dan meminta saya untuk membuat surat yang akan dikirimkan ke FAA dan JAA.”

Surat dari DSKU dilayangkan ke FAA dan JAA. Proses sertifikasi N250 pun dihentikan. Padahal Sang Gatotkoco (50 penumpang) sudah membukukan 700-750 jam terbang dan Sang Krincingwesi (70 penumpang) 200 jam terbang.

Rencana pembuatan prototipe ketiga (PA-3) Konconegoro dan PA-4 Putut Guritno batal. Kedua pesawat ini akan dibuat untuk mengenapkan 1.700-2.000 jam terbang sebagai syarat untuk memperoleh sertifikasi itu.

Dalam pembangunan pesawat terbang ada dua macam sertifikat. Penjelasannya besok ya dalam cerita kelima puluh (50).