Fri. May 29th, 2020

Ini Cerita Pesawat N250 (47) Inflight Simulator

                                   

Assalamualaikum semua …

Pilot uji menjadi ujung tombak dalam penerbangan perdana pesawat terbang yang baru keluar dari pabrik. Pada penerbangan perdana N250, empat kru pesawat: Capt Erwin Danuwinata, Capt Sumarwoto, Hindawan Hariowibowo, dan Yuares Riady, menjadi tumpuan keberhasilannya. Tentu tak lepas pula dari peran penting para kru darat.

Dalam program pembangunan pesawat terbang, seorang pilot uji (test pilot) merupakan bagian dari tim. Pilot harus berdiskusi dengan engineer, bagian komersial, bahkan pelanggan, untuk mengetahui kebutuhan masing-masing.

Desainer merancang pesawat terbang, termasuk model-model aerodinamika dan mock-up kokpit. Hasil uji terowongan angin pada model-model iti, awalnya belum tentu seratus persen memenuhi persyaratan yang diinginkan pilot uji (Angkasa No.2 Tahun V November 1994).

Erwin mengatakan, khusus untuk N250, Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) menggunakan beberapa peralatan untuk cockpit mock-up, ground flight simulator, dan inflight simulator. Dalam inflight simulator, digunakan pesawat terbang yang dimodifikasi membawa komputer di perutnya.

Komputer tersebut diprogram dengan software yang dapat menyimulasikan gerakan N250. Reaksi pesawat ini pun akan sama dengan reaksi N250.

IPTN membangun piranti lunak N250 itu, tapi komputernya buatan Calspan dari Amerika Serikat. Calspan juga memiliki pesawat untuk inflight simulator.

Cockpit mock-up digunakan untuk melihat human factors, misalnya visibilitas dari kokpit, jangkauan dan genggaman terhadap panel di kokpit, serta format display-nya. Semua ini dapat dilihat pada ground based flight simulator.

Hal tersebut merupakan pilot assessment, faktor ketiga dalam persyaratan pada perancangan pesawat terbang. Faktor pertama safety dan faktor kedua adalah ekonomis. Penilaian pilot itu berkaitan dengan kenyamanan dan keamanan di kokpit. Apakah semua sistem sudah logis, terutama warning system, yang kemungkinan besar sering dilupakan?

Untuk mengejar waktu, sementara peralatan di IPTN belum siap, Erwin, Sumarwoto, Hindawan, ditambah Capt Toos A Sanitioso, diberangkatkan ke AS. Mereka akan latihan terbang dengan simulator. Kata Erwin, inflight simulator digunakan terutama pada pesawat dengan sistem kendali fly-by-wire.

Dalam fly-by-wire, di antara pilot dengan pesawat ada komputer. Jika pilot memasukkan satu input, misalnya dengan menggerakkan stick atau control wheel, antara stick atau control wheel tidak langsung dihubungkan dengan elevator atau aileron, tapi lewat komputer.

Komputer diprogram dengan software yang akan menyimulasikan karakteristik pesawat terbang yang akan diuji. Karakteristik itu datangnya dari model pesawat yang sudah diuji di terowongan angin dan propulsi sampai desain flight control system.

Dalam software itu ada ketentuannya. Contoh, jika pilot menggerakkan stick 1 cm ke belakang, berarti N250 akan naik ke ketinggian (altitude) 5 derajat. Namun belum tentu hasilnya begitu. Di sinilah tugas komputer, yang akan menghitung dan memberi komando pada kontrol pesawat agar reaksinya sama dengan N250.

Mengapa harus menggunakan inflight simulator? Jika hanya menggunakan ground flight simulator, reaksi dari simulasi sistem tak dirasakan pilot karena “bendanya” terpaku di tempat.

Jikalaupun pilot merasakan gerak dari pesawat karena ada flight simulator yang moveable-based, pilot tetap tak yakin akan akurasi dari input itu. Beda dengan inflight simulator yang ril, misalnya walaupun terjadi happy landing, bisa saja roda pesawat patah.

Penggunaan inflight simulator mendatangkan tekanan mental yang tinggi, sehingga digunakan lebih untuk flying quality dan handling quality. Sementara ground flight simulator ditekankan untuk pengujian sistem avionik dan prosedur penerbangan di kokpit.

Untuk inflight simulator digunakan pesawat Learjet 55 dan Convair 640, yang memang sudah dirancang begitu. Calspan berpengalaman dalam berbagai proyek tersebut, termasuk untuk space shuttle.

Kata Erwin pesawat yang menjadi inflight simulator itu mendarat seperti glider. Namun glider of descent-nya tinggi pada kecepatan yang tinggi pula.

Usai terbang perdana, giliran siap meraih sertifikasi. Besok di cerita keempat puluh delapan (48) ya.