Fri. May 29th, 2020

Ini Cerita Pesawat N250 (43) Hop…laaa …

                                   

Assalamualaikum semua …

Sebelum N250 terbang, dilakukan uji mesin. Seperti diungkapkan Kepala Divisi Flight Test Center (FTC) Said D Jenie, ada uji engine run up, ground test, terus taxing kecil-kecilan dengan menguji brake-nya, hidroliknya, juga simetric dan unsimetric brake test, low and high pressure tir, dilanjutkan dengan high speed taxi dan pitch up.

Tentang N250 yang akan terbang perdana itu, Idrus Ismail dari majalah Angkasa pernah menulis begini: “Seperti bayi, sesuai prosedurnya, N250 perlu belajar jalan dulu, lantas menggelinding, kemudian berbelok ke kiri-kanan dan balik kanan di landasan.

Setelah itu, pesawat yang masih batita itu masuk ke tahap melompat (hop), belajar berlari, melaju, lalu lepas beberapa meter di atas landasan, kemudian turun. Naik lagi, turun lagi. Selanjutnya, N250 pun masuk ke tahap lepas landas dan terbang, lantas mendarat.”

Tulisan Idrus itu berdasarkan cerita Capt Antonius Toos Sanitioso, pilot uji Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) yang ikut terlibat pada proses pengujian itu. Sungguh menarik.

Apalagi diceritakan pula kalau semua yang terlibat dalam uji tersebut, terutama para kru, intensitas kesibukannya sangat tinggi. “Hanya empat hari sebelum terbang perdana!” ucap Toos.

Pengujian itu memberi tekanan, sehingga para harus bekerja keras. Apalagi ketika engine run up berkali-kali tak berhasil mencapai performa yang diharapkan. Berkali-kali dilakukan, “Wah… pressure-nya besar!”

Toos bercerita lagi, “Suatu kali saya ikut dalam kokpit. Engine run up lagi … dan power bisa sampai 100 persen. Akhirnya, bisa!”

Hop…laaa … semua yang ada di area pengujian pun bertepuk tangan; seperti eforia. Ini peristiwa bersejarah! Maka first flight pun bisa tepat waktu: tanggal 10 Agustus 1995.

Dengan bangga Toos mengatakan, “N250 benar-benar merupakan pilot dream; quite, fast, smooth, powerful. Rate of climb-nya luar biasa!”

Suksesnya pengujian sebelum N250 terbang perdana membuat pilot ujinya, Capt Erwin Danuwinata lega. Erwin, kata Toos, begitu kelelahan menguji pesawat karya anak bangsa itu agar bisa terbang sesuai yang sudah ditargetkan itu.

Erwin menerbangkan perdana N250, tapi tak bisa menerbangkannya ke Paris Air Show 1997, yang berlangsung 21-30 Juni. Pada 22 Mei 1997, ia meninggal dunia akibat kecelakaan ketika latihan dropping pesawat CN235 versi militer di Lanud Gorda, Serang.

Delapan bulan sebelum kecelakaan tersebut, Erwin memperoleh Iven C Kincheloe Award, penghargaan bagi pilot uji terbaik dunia. Dia menerimanya di Los Angeles, California, AS, pada 28 September 1996.

Penghargaan dari The Society of Experimental Test Pilot (SETP) itu diberikan atas prestasi Erwin dalam uji coba N250. Tak banyak media di Indonesia yang memberitakannya. Padahal itu merupakan prestasi yang membanggakan bangsa.

Kata Toos, setiap tahun SETP mengadakan simposiun di Los Angeles. Setiap pilot uji yang hadir membawa makalah dan memaparkan uji coba pesawat terbang yang dilakukannya pada tahun sebelumnya.

Erwin hadir pada simposium tahun 1996 dan memaparkan makalah “The Progress of The N250 Flight Program”. Dia pun menjadi pemenang award itu. “Tentu saja saya kaget,” ucapnya.

“Saya menganggap penghargaan ini bukan hanya diberikan pada saya pribadi, tapi juga bagi mereka yang telah bekerja untuk N250,” tutur Erwin (Angkasa No.4 Tahun VII Januari 1997).

N250 pun terbang! Di cerita keempat puluh empat (44) ya.