Fri. May 29th, 2020

Ini Cerita Pesawat N250 (42) Uji 4 Prototipe

                                   

Assalamualaikum semua …

Serangkaian panjang proses uji darat dan uji terbang dilakukan N250 jelang terbang perdana. Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) membuat empat prototipe pesawat N250 untuk masing-masing fungsi tes. Divisi Flight Test Center (FTC) yang dipimpin Said Djoharsyah Jenie, bertanggung jawab untuk pengujian itu.

Prototipe pertama (PA-1) dibuat khusus untuk pengembangan sistem kendali, fly-by-wire, dan penyempurnaannya. PA-2 digunakan untuk uji stabilitas dan kontrol, ditambah performa terbang, yang disebut fisika terbang.

“Ilmu-ilmu fisika terbang itu adalah performance, dynamics, flight dynamics, stability and control. Khusus, itu!” jelas Said (Angkasa No.10 Tahun V Juli 1995).

Khusus untuk uji flight system, yang sudah dikembangkan dan disempurnakan pada PA-1, dilakukan pada PA-3. Prototipe ini terbang sudah dengan pengembangan untuk sertifikasi. Basic systems untuk sertifikasi itu ada uji flight control system, engine control system, landing gear system, pressurisation, avionic system, environmental control system (ECS), dan electrical distribution system.

PA-4 sudah lengkap semua untuk sertifikasi. Jadi, yang dinilai oleh Direktorat Sertifikasi dan Kelaikan Udara (DSKU), otoritas penerbangan sipil Indonesia, dan Federal Aviation Administration (FAA), otoritas penerbangan AS, adalah PA-4. Semuanya akan diuji ulang pada prototipe pesawat keempat ini.

“Kalau perlu, untuk mempercepat prosesnya, kita juga siapkan series nomor satu nanti, khusus untuk interior. Interior kabin, kursi penumpang, smoke evacuation outdoor, noise level, dan sebagainya. Itu kan harus diukur,” ungkapnya.

Kegiatan N250 dalam hanggar selesai dan pesawat keluar. Namun kegiatan di luar hanggar masih panjang.

Said menjelaskan, “Di darat, untuk melihat bagaimana simetriknya nose wheel, ada banyak pengujian, seperti engine run up dan ground test, lantas taxing kecil-kecilan dengan menguji brake-nya, hidroliknya, juga simetric dan unsimetric brake test, low and high pressure tir, dilanjutkan dengan high speed taxi, pitch up. Setelah itu, barulah terbang perdana.”

Semula, Said memrediksi bahwa tiga-empat bulan setelah roll out, N250 bisa terbang. Bandingannya, Boeing 777 hanya satu bulan setelah roll out bisa terbang. Namun realisasi untuk N250 mundur, lebih dari delapan bulan setelah roll out, Gatotkoco terbang.

Bagaimana detail uji di darat sebelum N250 terbang? Dalam cerita keempat puluh tiga (43) besok ya.