Ini Cerita Pesawat N250 (41) Said D Jenie

Assalamualaikum semua …

Menjelang terbang perdana prototipe pertama (PA-1) N250, Vice President Divisi Flight Test Center (FTC) Said Djoharsyah Jenie sebagai orang yang paling bertanggung jawab. Serangkaian panjang proses uji darat dan uji terbang pesawat, seperti uji sistem: iron bird, avionic, laboratory test, electromagnetic compatibility, lightning strike, fuel test, harus dilakukan di divisinya. Namun ia optimis!

Said adalah alumnus Teknik Penerbangan ITB (1973) dan kemudian melanjutkan kuliahnya di Delft University of Technology, Belanda, dan Massachusetts Institute of Technology (MIT), AS. Pernah bekerja di National Aeronautics and Space Administration (NASA) dan berpengalaman dalam uji terowongan angin X-15 tilt rotor.

Dua bulan menjelang target terbang perdana, jadwal tes masih berlanjut. Said berharap, tak ada kesulitan pada sisa uji coba itu. Kenyataannya memang N250 berhasil terbang perdana dan sukses! “Bagaimanapun saya mengutamakan safety first,” tegasnya (Angkasa No.10 Tahun V Juli 1995).

Tenggang waktu antara roll out dengan first flight tergantung kandungan teknologi pesawat. Jika tak mengandung teknologi baru, terbang perdana bisa dilakukan lebih cepat. Namun N250 mengandung terlalu banyak teknologi baru, sehingga wajar kalau waktu pengujiannya lebih lama dibandingkan pesawat lain yang sekelasnya.

“Karena ada teknologi yang belum pernah dipasang pada pesawat sekelasnya, diperlukan extensive test yang banyak sekali,” tuturnya.

Said mencontohkan, tenggang waktu antara roll out sampai terbangnya pesawat pengebom Northrop Grumman B-2 adalah 1,5 tahun karena teknologinya baru sama sekali. Sementara N250 tenggang waktunya sembilan bulan.

Said mengatakan, pesawat akan melakukan structuring test, seperti static test, fatigue test, bird impact test, dan ground vibration test. Iron bird, suatu rig test untuk menguji flight control system misalnya, harus sudah jalan beberapa ratus jam sebelum pesawat diterbangkan.

Iron bird disiapkan untuk test bench fly-by-wire. Jadi, seperti pesawat terbang, tapi tidak terbang; hanya rangka tapi sistemnya persis seperti pesawat terbang. Tujuan utamanya adalah untuk mengetes sistem kendali pesawat dan landing gear.

Engineering Flight Simulator terus disempurnakan, disesuaikan dengan ketentuan Federal Aviation Administration (FAA), otoritas penerbangan AS. Kemudian perangkat lunak itu dimasukkan ke dalam engineering simulator yang ada di ground base dan diterbangkan lagi oleh pilot-pilot Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN). Selanjutnya, engineering simulator disandingkan dengan iron bird.

“Sekarang simulator kita sudah siap. Engineering simulator kita memang lamban karena berbagai kendala; biaya, penyediaan dana, dan sebagainya. Seharusnya setahun sebelum pesawatnya terbang, engineering simulator dan iron bird sudah siap. Kita kejar-kejaran dengan waktu. Untuk mengejar itu, kita pakai inflight simulator di Amerika. Begitu engineering simulator dan iron bird siap, kita masukkan software dan lakukan tes bersama-sama dengan pesawatnya terbang,” tutur Said.

Ada empat prototipe pesawat N250 yang dibuat. Apa fungsinya? Besok dijabarkan dalam cerita keempat puluh dua (42) ya.