Ini Cerita Pesawat N250 (35) Barata dari Ngagel

Assalamualaikum semua …

Sebagian besar alat uji pesawat N250 yang terpancang di Hanggar Advanced Laboratories Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) ternyata buatan pabrik di Ngagel, Surabaya. Iron Bird Test Rig, Bird Impact Test, dan Rig Jig Fuselage Static Test misalnya, dibuat di Barata Indonesia, pabrikan di Ngagel itu. PT Barata Indonesia adalah salah satu perusahaan dari 10 anggota Badan Pengelola Industri Strategis (BPIS).

Pada zaman Belanda, pabrik bernama NV Braat Machinefabriek tersebut adalah bengkel perawatan mesin pabrik gula. Orang Surabaya mengenalnya sebagai bengkel besar pembuatan peralatan industri, pengecoran besi dan baja, jasa konstruksi, serta pabrik perawatan berat. Pada tahun 1991, PT Barata Indonesia didirikan dan meneruskan kiprah pabrik ini.

Ternyata Barata memiliki kualifikasi tingkat dunia dan sudah menjalin kerja sama dengan 19 industri berat kelas dunia. Sejak tahun 1991, pabrik ini juga telah mengantongi The American Society of Mechanical Engineers Stamp, semacam jaminan internasional untuk beberapa produk berat. Standar produknya juga mengacu pada ISO-9000.

Direktur Produksi PT Barata Indonesia, Suroto Dikoen mengatakan, perusahaannya memiliki strategi pemasaran yang baru. “Segmennya adalah produk dengan quality requirement tinggi, seperti mengerjakan mail-roll dan pressure vessel. Untuk pengerjaan pelat-pelat disub-kontrakkan ke pabrik lain,” ujarnya (Angkasa No.5 Tahun V Februari 1995).

Pihaknya, kata Suroto, memberi respons positif ketika BJ Habibie sebagai Ketua BPIS mengajak industri yang menjadi anggota BPIS ikut mendukung industri kedirgantaraan dan kemaritiman. Bahkan Barata pun bagai tertarik ke pusat putaran IPTN.

Suroto menjelaskan, ada tiga aspek proses manufaktur pesawat terbang dari tingkat tinggi ke yang rendah. Yakni flying parts pesawat yang menuntut kualitas tinggi, jigs dan fixtures, serta fasilitas produksi (tools). Barata hanya bisa memenuhi dua produk; di seputaran jigs dan fixtures, serta tools.

Pada kontrak pertama tahun 1992 dengan IPTN, Barata mengerjakan pembuatan master structure, structure jig (skin cut/inboarding), master gauge and structure, dan Iron Bird Test Assembly untuk N250. Selanjutnya tahun 1993, kontrak bertambah dengan pembuatan Bird Impact Test, Rig Jig Wing Static, dan Rig Jig Fuselage Static Test. Pada Oktober 1994 menyusul kontrak untuk pembuatan wing and horizontal N250, yang nilainya mencapai Rp2miliar.

Kontrol kualitas untuk produk-produk Barata itu adalah “Quality Plan IPTN-Barata Indonesia”, yang ditandatangani kedua pihak pada Mei 1992. Acuannya harus sesuai dengan manual Quality Assurance (QA) IPTN, khususnya di bidang tools dan jigs.

Selanjutnya, kita kenalan dengan terowongan angin buatan Indonesia dalam cerita ketiga puluh enam (36) ya.