Ini Cerita Pesawat N250 (32) Advanced Lab

Assalamualaikum semua …

Usai roll out, kesibukan para insinyur Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) belum mereda. Mereka harus menguji sistem engineering N250 dengan lebih saksama. Kesibukan terkonsentrasi di hanggar, yang biasa disebut Advanced Lab.

Kepala Program N250, Djoko Sartono mengatakan, sebelum functional test dan ground test lulus, mereka belum bisa santai. Pekerjaannya tak ringan karena konten elektronik N250 mencapai 80 persen dan sisanya konten mekanikal. Ini berbeda dengan pesawat CN235 yang komposisinya sebaliknya.

Di Advanced Lab terdapat rupa-rupa fasilitas dan peralatan penguji yang canggih. Hanggar ini tertutup, tak sembarang orang bisa memasukinya. Bahkan di antara para teknisi juga ada yang tak tahu apa saja peralatan di dalamnya.

Fasilitas tersebut memang dibuat khusus untuk N250. Di dalamnya ada Engineering Flight Simulator, Iron Bird, Avionic Simulation Laboratory, Fuel System Test Facility, Electrical Power Laboratory, Mass Balance Distribution Test Equipment Facility, Lightning Protection Test Facility, dan Electromagnetic Compatibility Test Laboratory.

Dua fasilitas di Advanced Lab, yaitu Iron Bird dan Engineering Flight Simulator, disebut sebagai fasilitas yang eksotis. Iron Bird merupakan alat uji fly-by-wire di darat yang amat vital. Pesawat N250 harus lulus uji sedikitnya 500 jam di fasilitas ini, sebelum diperbolehkan terbang.

Engineering Flight Simulator adalah media bagi para pilot uji IPTN untuk mengenal karakteristik engineering kemudi N250. Bentuknya mirip basic-training simulator, tapi tanpa sumbu penggerak. Desain hardware dan software-nya rancangan IPTN. Namun komponen-komponennya masih didatangkan dari luar negeri, seperti control-loading dari Fokker, komputer dari Uncurrent, dan screen dari McDonnell Douglas.

IPTN memang serius dengan misi “evolusi yang dipercepat”-nya. Untuk mengisi “otak” komputer simulator itu, beberapa pilot uji dan beberapa insinyur dikirim ke Amerika Serikat. Mereka berusaha mengumpulkan data karakteristik N250. Data ini kemudian diperoleh dalam dua “N250 gadungan”, yang sebenarnya adalah Lear Jet 55 Calspan dan Convair 640 Total Flight Simulator milik Angkatan Udara AS.

Di Indonesia, para insinyur terbang ke berbagai tempat untuk memotret bandara-bandara dari udara. Hasil pemotretan ini kemudian digabungkan dengan data flight-test. Jadilah visualisasi grafik komputer yang dapat dilihat dalam screen engineering simulator.

Simulator yang nilainya seharga sepertiga harga pesawat N250 itu, uniknya bisa “copot-able”. Itu kata Vice President Flight Test Center (FTC) IPTN, Said D Jenie. “Otaknya bisa dicopot, kemudian bisa diganti oleh CN235, Super Puma, kereta api cepat, bahkan speed boat,” jelasnya (Angkasa No.3 Tahun V Desember 1994).

Untuk membuat simulator terobosan baru itu, IPTN harus berpikir keras dan berat. Berpikir untuk bisa melakukan sinkronisasi model matematika dengan suara, gambar, dan muatan, yang memang diperlukan dalam engineering simulator. Salah satu macet, seluruhnya macet juga. Itulah risiko introduksi teknologi baru.

Dalam program N250, IPTN menjajal semua kepintaran dan keuletan Engineering Flight Simulator, termasuk Iron Bird dan Avionic Simulation Laboratory. Mengombinasikan tiga fasiltas canggih ini belum pernah dilakukan industri pesawat terbang mana pun di dunia, sekalipun Boeing dan Airbus.

Upaya tersebut ternyata kerap dihambat problem pelik electronic-interference dan electronic-magnetic compatibility. “Langkah ini mau tak mau kita ambil karena N250 terikat deadline. Kalau tidak, dikhawatirkan functional test tak bisa kelar tepat waktu dan terbang perdana bisa mundur. Pak Habibie ikut terjun untuk urusan ini karena beliaulah yang sebenarnya cheif-designer N250,” tutur Said.

Komentar Boeing dan Airbus tentang hal tersebut, “You’re too ambitious!” Namun IPTN menangkisnya, “Because we cannot do other else!”

Besok dalam cerita ketiga puluh tiga (33) kita paparkan tentang Flight Test Center ya.