Ini Cerita Pesawat N250 (25) Peluang Bisnis Interior

Assalamualaikum semua …

Pesawat N250 memiliki interior dengan suasana kabin pesawat terbang berbadan lebar berkonsep tahun 2000-an. “Dimensinya besar dan berkesan wide body. Setara dengan interior Boeing 777,” ucap Bagas Prasetyowibowo, Kepala Desain Interior Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) yang merancang interior N250 (Angkasa No.2 Tahun II November 1991)

Walaupun diakui, interior rancangan Bagas dan timnya itu hanya akan bertahan sampai tahun 2002. Alasannya, “Kalau di atas tahun itu, ada tren yang mengharuskan desain interior juga berfungsi sebagai servis penumpang.”

Bagas memang sudah bersiap membuat rancangan interior N250 sebaik-baiknya dan mengikuti selera pasar. Tiga keunggulannya adalah memiliki tempat bagasi di atas kepala (lugage atau hatrack) dengan volume besar atau luas, layanan penumpang layaknya di pesawat berbadan lebar, dan kemudahan dalam menggunakan toilet kabin (lavatory).

Pertimbangannya, penumpang cenderung membawa tas besar ke kabin maka hatrack diperluas. Layanan bagi penumpang atau passenger service unit (PSU) ditambah fasilitas hiburan berteknologi tinggi, seperti layar televisi. Lavatory dibuat luas agar bisa dimasuki penumpang berkursi roda.

Peluang membuat produk untuk pengisi interior N250 tersebut cukup menjanjikan. Namun sampai pesawat siap terbang, produk-produk itu masih barang impor. Belum ada industri di Indonesia yang menangkap peluang bisnis itu.

Padahal jika industri pendukung yang memasok produk interior itu ada, akan tumbuh dan secara nasional bisa memghemat devisa negara. Bahkan bisa menghasilkan devisa jika menembus pasar global. Untuk produk-produk interior itu nilainya bisa mencapai 8-10 persen dari harga pesawat terbangnya.

Sebenarnya IPTN sudah mempu membuat kursi penumpang. Bahkan sudah memperoleh sertifikasi dari Dinas Kelaikan Udara atau otoritas keselamatan penerbangan sipil dalam negeri. Namun IPTN belum memasarkannya dengan alasan harga jualnya masih tinggi, sehingga belum bisa bersaing di pasar internasional.

Rupanya bahan baku kursi itu masih didatangkan dari luar negeri, seperti dari Avio Interior di Italia dan Sicma di Prancis. Pabrik-pabrik pembuat kain dan karpet di Indonesia belum ada yang mampu membuat bahan baku untuk pelapis kursi dan bantalan untuk kabin pesawat terbang.

Pernah ada yang mencoba untuk menguji hasil produksi pabrik dalam negeri, tapi gagal. Bahan baku kursi dan bantalan itu tidak memenuhi standar ketika diuji flammability atau sifat mudah terbakar, heat release atau pelepasan panas, dan toxinity atau kadar racunnya. Ada juga syarat lain, yakni smoke density dan kekuatan struktur yang harus dipenuhi.

Pabrik dalam negeri ternyata masih belum mampu membuat bahan baku dengan standar sesuai ketentuan keselamatan penerbangan. Padahal sangat diharapkan industri pendukung dari dalam negeri berkontribusi dalam terwujudnya N250. Menjadi kebanggaan pula jika persentase produk dalam negeri makin tinggi.

Waktu itu, harga kursi ganda (double seats) mencapai 4.000-5.000 dollar AS per unit. IPTN pun “terpaksa” memesannya dari Italia dan Prancis. Bahkan bukan cuma kursi, produk lavatory dan dapur (galley) pun dipasok dari luar negeri.

Tentu IPTN melakukan evaluasi pada semua produk yang akan digunakan dalam N250, yang memang pesawat terbang hasil rancangan bangsa Indonesia. “Kita tidak asal beli dan pasang, tapi membuat rancangan pada apa yang akan kita beli atau kita buat sendiri,” ucap Bagas.

Pemikiran jangka panjang untuk bisnis interior pesawat terbang sudah terpikirkan. Kata Bagas, bisnisnya prospektif. Jika target terjual 707 pesawat N250 dengan harga per unit 13,5juta dollar AS, bisnis ini bisa bernilai ratusan juta sampai miliaran dollar AS. Interior pesawat biasanya diperbaiki dan diubah desainnya dua-enam tahun sekali.

Selesai desain dan pembuatan, prototipe N250 digelindingkan ke luar hanggar atau roll out. Tulisannya dalam cerita kedua puluh enam (26) ya.