Ini Cerita Pesawat N250 (19)

Assalamualaikum semua …

Konsep fly-by-wire muncul dari pemikiran orang-orang yang berpikir lateral bukan yang biasa berpikir vertikal. Mereka yang berpikir lateral menyatakan pikirannya, “Kalau manusia tidak bisa, kenapa tidak menjajagi kemungkinan menggunakan komputer?” Komputer mampu bekerja tanpa jeda dan tak pernah merasa lelah. Keakuratan dan kecermatan responsnya tak perlu diragukan lagi.

Bagaimana komputer menangani gangguan eksternal? Misalnya, suatu ketika gangguan dari luar mengubah posisi pesawat terbang, maka arah dan kekuatannya sertamerta dikalkulasi oleh komputer sebagai pusat pengendali. Selanjutnya keluarlah perintah agar bidang-bidang atur aerodonamika berdefleksi menetralkan gangguan itu.

Komunikasi antara gagang kemudi (stick controller) dan bidang-bidang atur aerodinamika berjalan melalui kabel (wire). Karena sifatnya yang aktif dan terus menerus menyeimbangkan itulah, sistem kendali seperti ini disebut active system control, yang belakangan lebih populer dengan istilah “fly-by-wire”.

Ketika pilot menggerakkan gagang kemudi untuk kepentingan manuver, komputer lebih dulu menerjemahkan aksi mekanik menjadi sinyal-sinyal listrik, sebelum disalurkan ke bidang-bidang atur aerodinamika. Lantas servo hidrolik mengubah sinyal itu menjadi gerak mekanik kembali. Selanjutnya sinyal-sinyal itu mendefleksikan bidang-bidang atur aerodinamika sesuai kebutuhan.

Keunggulan fly-by-wire ada lagi. Selain respons kendalinya yang cepat, biaya perawatannya relatif murah. Total volume dan bobotnya juga sangat kecil. Penghematan ruang dan bobot adalah dua faktor yang amat penting dalam rancang bangun pesawat terbang. Untuk jenis pesawat terbang apa pun, penghematan ini selalu berarti peningkatan muatan (payload).

Dikendurkannya kestabilan statis terbukti meningkatkan prestasi manuver lebih tinggi pada pesawat tempur. Penerapan konsep relaxed static stability (RSS) memungkinkan manipulasi hukum-hukum pengendalian pesawat terbang.

Dengan RSS, pesawat tempur mampu melesat pada lintasan datar, sekaligus menukikkan moncong tanpa harus kehilangan ketinggian. Juga mampu mengubah arah tanpa menggerakkan moncong dan menambah angle of attack tanpa stall, seperti didemonstrasikan pesawat X-31. Hebatnya, pesawat tempur dengan teknologi seperti ini mampu meniru dengan tepat manuver lawan yang sedang diubernya.

Bukan cuma pesawat militer, pesawat sipil juga turut menikmati konsep RSS. Memang bukan dalam aspek manuver (maneuverability), tapi dari sisi keandalan (reliability) sistem. Pesawat terbang komersial diuntungkan karena dapat memperkecil ketergantungan pada sistem kendali mekanikal yang tergolong peka perubahan fisik di sekitarnya.

Kelemahan sistem kendali mekanikal terletak pada ratusan rangkaian rumit beserta titik-titik tumpunya. Akibat ekspansi termal dan atau bertambahnya usia pakai, komponen-komponen ini selalu memungkinan untuk berubah bentuk. Bukan tidak mungkin dalam suatu perubahan ekstrem, gerakan tongkat kemudi bisa saja diterjemahkan berlebihan oleh rangkaian, yang bisa sangat berbahaya dan berakibat fatal.

Penerapan fly-by-wire meredam masalah tersebut karena antara tongkat kemudi dan bidang-bidang atur aerodinamika tidak ada lagi komponen yang bergerak. Dengan begitu, peluang terjadinya perubahan bentuk atau aus (rusak karena gesekan) bisa ditekan hingga nol.

Dampak positifnya juga menjalar ke aspek konsumsi bahan bakar dan struktur. Makin pendek jarak relatif aerodinamic center (AC) terhadap center of gravity (CG), kian kecil pula lift elevator yang dibutuhkan. Artinya adalah hal ini sama dengan penghematan bahan bakar.

Sejalan dengan menurunnya kekuatan tekukan yang diderita fuselage, para perancang diizinkan sampai batas tertentu untuk mengurangi kekokohan struktur tanpa mengorbankan faktor keselamatan. Bagi pakar aeronautika dan industri penerbangan, pengurangan material dan thrust akan memberi keuntungan berupa pengurangan bobot pesawat terbang.

“Pengurangan bobot, walaupun hanya beberapa pon, sejauh dilakukan dengan tepat, bisa menghemat ribuan pounsterling,” ungkap pakar aeronautika dan industri penerbangan.

Sebagai tokoh penerbangan dunia, BJ Habibie memiliki pemikiran yang jauh lebih maju dari zamannya. Bukan tanpa pemikiran dan analisis kalau ia mencetuskan ide untuk menggunakan sistem fly-by-wire pada N250.

Pemikirannya dicetuskan ketika para perancangnya sedang mendesain ekor pesawat N250. Kita sambung besok dalam cerita keduapuluh (20) ya.