Ini Cerita Pesawat N250 (16)

Assalamualaikum semua …

Dalam bahasa aeronautika, N250 merupakan pesawat terbang ketiga dalam sejarah yang terbang memanfaatkan sistem fly-by-wire. Pesawat N250 seperti rancangan Airbus A320, yang waktu itu rencana terbangnya tahun 1991, dan Boeing 777, yang target terbangnya tahun 1994. Ketiganya menggunakan sistem pengendali elektronik.

Bedanya, Airbus A320 dan Boeing 777 adalah pesawat bermesin jet dengan kecepatan 900 km/jam, sedangkan N250 adalah pesawat baling-baling dengan kecepatan 600 km/jam. Maka N250 adalah pesawat pertama dalam sejarah dirgantara yang terbang subsonik dengan memanfaatkan sistem fly-by-wire.

Istilah fly-by-wire menjadi sangat populer di Indonesia pada tahun 1990-an, sejak Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) meluncurkan program N250. Sistem elektronik penggerak bilah-bilah sayap pesawat terbang ini sering diperbincangkan berbagai kalangan.

Antara tahun 1989-1990, BJ Habibie mencetuskan ide untuk menggunakan sistem fly-by-wire pada N250 ketika para perancangnya sedang mendesain ekor pesawat. Ekor elevator pesawat memang sempat berganti tempat.

Dalam bahasa sederhana, fly-by-wire itu adalah suatu pengendalian terbang yang tidak dilakukan secara analog atau menggunakan tuas dan batang. Kendali pilot dilakukan oleh sinyal-sinyal elektronik yang digabungkan di pusat-pusat kendali.

Dengan kendali fly-by-wire, pilot tidak merasakan beban kendali yang ada secara langsung. Untuk merasakan adanya beban itu, N250 menggunakan perangkat yang disebut artificial feel. Dengan adanya artificial feel yang didesain oleh software, pilot akan merasakan beban yang sama dengan yang ada di pusat kendali.

Menurut Koordinator Kegiatan Perancangan Engineering N250, Jusman Sjafii Djamal, kecanggihan pesawat ini bukan cuma diterapkannya sistem fly-by-wire. Di bagian bawah badan pesawat juga ada turbin yang kecil. Dalam kondisi emergensi, turbin ini akan keluar sebagai pengganti sumber energi agar kalau mesin mati atau macet, pesawat terbang masih bisa dikendalikan.

Untuk menjelaskan hal-hal canggih yang akan diterapkan pada N250 bagi insinyur-insinyur muda, Jusman mengusulkan kepada Habibie untuk one to one equation. “Untuk belajar equation of motion pesawat terbang di sayap, saya yang dikirim ke Lucas dan Liebherr,” ujar Jusman. Lucas dan Liebherr adalah pemasok sistem fly-by-wire N250.

Capt Erwin Danuwinata yang akan menguji terbang N250 juga harus belajar menerbangkan pesawat menggunakan inflight simulator. Terutama karena N250 menerapkan sistem fly-by-wire, yang reaksi dari pesawatnya ditentukan oleh komputer. Pilot uji IPTN memang belum punya pengalaman terbang dengan fly-by-wire dan belajar di inflight simulator bisa menjamin keselamatan.

Bukan cuma Jusman yang dikirim ke Lucas dan Liebherr, tapi juga Diny Rosyada dan Irzal Rinaldi yang ditunjuk untuk menangani sistem fly-by-wire N250. Cerita lengkapnya, di cerita ketujuhbelas (17) ya.