Ini Cerita Pesawat N250 (15)

Assalamualaikum semua …

Faktor yang menentukan keberhasilan produk pesawat terbang dalam meraup pasar ada tiga: bentuk desain atau rancangannya, kemampuan mesinnya, dan jaminan suku cadang termasuk layanan purna-jual.

Kita bahas faktor kedua, yakni faktor mesin. Mesin pesawat N250 sudah dipilih, yakni GMA 2100. Pemilihannya sudah melalui kajian menyeluruh, terutama karena pesawat yang dibangun Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) ini akan dikembangkan bukan hanya berkapasitas 50 penumpang, tapi sampai 70 penumpang.

Dalam moda transportasi udara, tuntutan kecepatan kian tinggi. Di sisi lain, tuntutan biaya operasi dan perawatan pesawat terbang harus lebih rendah. Tuntutan pertama bisa dipenuhi oleh mesin jet atau turbofan, sedangkan yang kedua bisa oleh mesin turboprop.

Penggunaan mesin turbofan untuk penerbangan jarak pendek kurang efisien. Sebaliknya dengan turboprop, operasionalnya bisa lebih efisien walaupub waktu terbang lebih lama. Waktu itu, mesin turboprop yang ada memang memiliki daya dorong lebih rendah dibandingkan yang turbofan. Tak heran jika mesin truboprop kurang memenuhi tuntutan pasar yang menuntut kecepatan tinggi.

Sebenarnya ide untuk membuat mesin sesuai tuntutan pasar itu, yakni teknologi turboprop dengan kemampuan turbofan, sudah ada sejak beberapa tahun lalu. Berangkat dari kebutuhan akan mesin pesawat terbang komuter yang memiliki kemampuan besar, tapi hemat biaya operasi dan perawatan.

Pabrikan General Motors dan Allison Gas Turbine (GMA) sudah melakukan penelitian untuk menghasilkan mesin tersebut sejak tahun 1983. GMA melakukan pengujian ribuan jam terbang untuk menjajagi mesin andalannya, GMA 2100.

Mesin GMA 2100 merupakan hasil pengembangan dari mesin T406, yang digunakan sebagai penggerak helikopter berbadan panjang V-22 Osprey. Produksi heli ini tertunda karena mesin T406 kurang memenuhi harapan. Jadi, awalnya mesin ini diragukan keandalannya.

Sebenarnya, mesin T406 yang sudah melewati uji statik dan lapangan ini memiliki tingkat efisiensi paling tinggi di kelasnya. Sistem pembakaran dan pendingin turbinnya tingkat dua menggunakan sistem pendingin ganda, udara, dan kristal, yang kuat.

GMA punya keyakinan, mesin T406 buatannya itu andal. Namun karena kenyataannya kurang meraih pasar, Allison pun bertekad untuk membenahinya.

Hasilnya adalah mesin GMA 2100, yang prototipenya hadir pertama kali di Paris Air Show 1991. Mesin ini jenis turboprop tapi memiliki kemampuan turbofan. Dirancang sebagai penggerak pesawat komuter berkapasitas 50-80 penumpang, yang terbang untuk jarak pendek.

Dalam pengujiannya, mesin GMA 2100 dipadukan dengan baling-baling (propeller) berbilah enam buatan Dowty Aerospace Propeller (DAP) yang juga digunakan N250 dan hasilnya meyakinkan. Uji terbang ini dilakukan pada pesawat P-3A Orion pada pertengahan 1990.

“Selama uji kemampuan itu, GMA 2100 menunjukkan hasil baik. Tingkat efisiensinya lebih dari 89 persen,” kata F Blake Wallace, Wakil Presiden General Motors dan Manager Umum Allison Gas Turbine (Angkasa Nomor 7 Tahun II April 1992).

Apa saja yang diuji itu? Pertama, kemampuan propeller dan mesin, termasuk karakteristiknya ketika terbang. Selanjutnya diuji juga temperatur dengan full authority digital engine control (FADEC), serta tingkat kebisingan mesin dan kompabilitas pengontrol mesin.

Dari uji terbang itu, mesin GMA 2100 menghasilkan 4.500 tenaga kuda atau sekitar 3.500shp. Uji statiknya mampu menghasilkan 6.000 tenaga kuda atau sekitar 5.000shp. Kemampuannya ini dua kali lipat tenaga mesin CT7-9, yang menggerakkan pesawat Saab 340 dan CN235.

Mesin GMA 2100 seri A kemudian dipilih sebagai tenaga penggerak pesawat Saab 2000, L-100/C-130J, P-3 Orion, dan K-28 Kamov. Pesawat N250 memilih GMA 2100 seri C, yang memiliki kemampuan sedikit lebih besar dari seri A.

Kemampuan GMA 2100 rupanya mulai diakui. Manager Program Saab 2000, Dave Nevil mencontohkan, pada penerbangan dari Basil ke Barcelona di Spanyol, dengan Saab 340 yang menggunakan CT7-9 ditempuh dalam waktu 140 menit, bandingkan dengan Saab 2000 bermesin GMA 2100 yang ditempuh hanya dalam 90 menit.

Sertifikasi mesin GMA 2100 ditargetkan pada akhir 1992 dan mulai diproduksi tahun 1993. Pada saat itu, pesanan opsi mesin ini tercatat paling banyak dibandingkan mesin lain yang sekelasnya. Sedikitnya ada 150 mesin GMA 2100 harus diserahkan pada pemesannya sampai akhir 1994, termasuk untuk N250.

Setelah mesin GMA 2100, kita ulas tentang fly-by-wire yuk? Besok di cerita keenambelas (16) ya.