Ini Cerita Pesawat N250 (14)

Assalamualaikum semua …

Pada tahun 1991 ditetapkan desain pesawat N250 memiliki panjang badan 25,25 meter dan berbobot lepas landas maksimum 22.000 kilogram. Pesawat dirancang untuk menjelajah sejauh 1.482 kilometer dengan kecepatan jelajah 555km/jam.

Dengan rancangan dan bobot seperti itu, masih ringan kalau digerakkan oleh mesin GMA 2100. Oh iya, BJ Habibie dan tim memang memilih mesin tersebut untuk menampung potensi pertumbuhan N250. Kalau awalnya pesawat terbang ini disiapkan berkapasitas 50-54 penumpang, tahun-tahun berikut kapasitasnya akan diperbesar menjadi 70-75 penumpang.

Pemilihan mesin turboprop GMA 2100 sudah ditetapkan pada Juli 1990 dan pada Paris Air Show 1991 dilakukan persetujuan sebagai penegasan. Pada 16 Juni 1991, BJ Habibie sebagai Direktur Utama Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) menandatangani persetujuan itu bersama F. Blake Wallace, Wakil Presiden General Motors dan Manager Umum Allison Gas Turbine. Persetujuan ini mencakup pembelian mesin bagi pesawat yang diproduksi dalam dua tahun.

Pada tahun 1991, General Motors dan Allison Gas Turbine sedang menguji prototipe GMA 2100. Targetnya, mesin tersebut akan disertifikasi pada tahun 1992. Selanjutnya, Allison akan menyerahkan 10 mesin GMA 2100 kepada IPTN pada tahun 1994, untuk menyongsong uji terbang N250 pada pertengahan tahun 1995.

Pada Paris Air Show di Le Bourget itu, IPTN juga menandatangani persetujuan dengan Messier-Bugatti untuk pengadaan sistem roda pendarat (landing gear). Pada 13 Juni 1991, Habibie menandatanganinya bersama Jean-Paul Bechat, Pimpinan dan CEO Messier-Bugatti.

Perusahaan tersebut juga menjadi pemasok landing gear pesawat CN235. Bahkan ATR 42 dan ATR 72 juga menggunakan roda yang ditarik dan dimasukkan ke dalam badan pesawat buatan Messier-Bugatti ini.

Berburu komponen untuk N250 juga dilakukan para engineer dan teknisi IPTN di Asian Aerospace di Singapura. Pada 25 Februari 1992, Habibie menandatangani perjanjian pengadaan baling-baling (propeller) berbilah enam dengan JR Lightfoot, Managing Director Dowty Aerospace Propellers (DAP), yang berpusat di Gloucester, Inggris.

Kontrak perjanjian senilai 12juta dollar AS itu diperkirakan akan mencapai nilai potensial untuk N250 sebesar 150juta dollar AS. Kemenangan DAP mendapatkan kontrak dari IPTN karena pabrikan ini sudah berpengalaman 50 tahun dalam pembuatan baling-baling yang semua bahannya dari komposit (propeller all-composite). Karakteristik baling-baling ini memiliki tingkat kebisingan yang rendah.

Setelah melakukan perhitungan-perhitungan yang cermat, pada tahun 1991 Habibie mengumumkan bahwa biaya pengembangan N250 adalah 460juta dollar AS. Kemudian akan ditambah dengan biaya pengembangan untuk menjadi N270 sebesar 70juta dollar AS. Jadi totalnya 530juta dollar AS atau kalau kurs 1dollar AS=Rp2.500 pada waktu itu, biaya pembangunan N250 itu Rp1,325triliun.

Pada tahun 1990-an harga pesawat terbang sekelas itu berkisar antara 10-11juta dollar AS per unit. Maka program N250 akan mencapai titik impas bila sudah diproduksi 200-250 pesawat. Jika kebutuhan regional dan Indonesia sekitar 400 pesawat dan program berlangsung 20 tahun, setiap tahun IPTN harus memroduksi 20 pesawat (Angkasa Nomor 10 Tahun I Juli 1990).

Cerita selanjutnya (15) kita cari tahu tentang GMA 2100, yuk!