Ini Cerita Pesawat N250 (13)

Assalamualaikum semua …

Kita sebagai awam kemungkinan besar punya pikiran bahwa kalau membuat pesawat terbang sendiri itu artinya semuanya dikerjakan di dalam negeri dan oleh bangsa kita. Ini yang disebut nasionalistik.

“Kita inginnya dalam membuat pesawat terbang itu: dipikirkan di Indonesia, dibuat di Indonesia, dikerjakan oleh tangan atau lulusan Indonesia. Padahal ini tak akan bisa terjadi. Kalau melakukan hal seperti itu, kita akan menemukan kembali apa yang sudah ditemukan oleh orang lain yang sudah menemukannya. Itu bukan teknologi karena dalam teknologi itu ada unsur kreativitas dan ekonomi,” tutur Jusman Sjafii Djamal, Koordinator Kegiatan Perancangan Engineering N250 Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN).

Membangun pesawat terbang itu merupakan pembangunan industri teknologi tinggi. Industri yang biasanya merupakan tempat di mana seluruh manusia bersumber daya secara internasional melakukan kerja sama. Ini yang disebut global production network.

Pengertian inventor dalam pembuatan pesawat terbang adalah pembuat desainnya atau perancangnya. Jadi, yang disebut buatan Indonesia dalam pembuatan pesawat terbang adalah proses rekayasa dan rancang bangunnyalah yang menyebabkan pesawat terbang itu dilahirkan, dibesarkan, dan disertifikasi melalui kekuatan bangsa Indonesia.

Kata Jusman, N250 disebut pesawat terbang buatan bangsa Indonesia karena dilahirkan hasil ide dari BJ Habibie dan ditelurkan oleh putra-putri yang dilektor oleh Habibie. Selanjutnya dibesarkan dan dirawat oleh perusahaan yang dibangun dan dikembangkan oleh bangsa Indonesia.

Kemudian pesawat terbang tersebut disertifikasi pertama kali oleh badan sertifikasi atau otoritas penerbangan sipil Indonesia. Lantas sertifikasi ini diharmonisasikan oleh Federal Aviation Administration (FAA) AS atau European Aviation Safety Agency (EASA) Eropa atau badan sertifikasi negara lain.

Sejak desain awal, rancangan N250 memiliki rujukan dengan standar yang paling tinggi di dunia, yakni FAA. Menurut Jusman, kalau tidak demikian akan ada investasi yang sia-sia. Pembuatan pesawat terbang itu bisa dilihat laku tidaknya dengan melihatnya dari mulai proses sertifikasi sebagai jaminan keselamatan yang diberikan industrinya.

“Kalau rujukan dari awal bukan dari badan atau otoritas sertifikasi tertinggi, nanti kita tak akan mendapatkan sertifikasi yang memenuhi standar sertifikasi tertinggi. Jadi, tak akan terjadi harmonisasi dan akan menjadi mahal,” ucap Jusman.

Ada tiga negara yang diharmonisasi oleh FAA, yakni Rusia, China, dan Indonesia. Harmonisasi otoritas sertifikasi penerbangan sipil AS itu sudah ada sejak tahun 1990.

Apa spesifikasi dari desain awal N250 dan berapa biaya pengembangannya? Disajikan besok dalam cerita keempatbelas (14) ya.