Ini Cerita Pesawat N250 (11)

Assalamualaikum semua …

Kita gambarkan pesaing-pesaing pesawat N250 yang dianalisis Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) pada tahun 1980-an. Awalnya, pesaing utama kategori pesawat komuter 30 penumpang adalah Dornier 328 (Jerman). Selanjutnya untuk yang 30-80 penumpang ada Saab 340B (Swedia), Fokker F-50 (Belanda), ATR 42 dan ATR 72 (Prancis dan Italia), serta yang 80-100 penumpang ada BAe 145 dari British Aerospace (Inggris).

Dalam buku pesanan Dornier 328, tercatat angka 300 unit yang dipesan operator di luar Jerman. Penerbangan pertamanya akan dilakukan tahun 1991. Penyerahan perdana pesawat terbang ini pada tahun 1992 untuk operator Eropa dan tahun 1993 untuk operator Amerika Serikat. Pesanan terbesarnya dari operator AS, Midway Airlines dengan 33 unit pesan dan 40 unit opsi.

Di Asian Aerospace, Singapura, pada Februari 1990, Dornier 328 dengan kecepatan jelajah 345 knots berhasil menarik perhatian operator Asia Pasifik. Sebenarnya, pesawat ini bukan 100 persen bikinan Jerman, tapi gabungan subkontraktor yang membuat 40 persen komponennya. Ada Aermachi (Italia) yang membuat kokpit, Daewoo Heavy Industry (Korea Selatan) yang bikin badan pesawat, juga Westland Aerospace (Inggris) yang memroduksi nacelle mesinnya.

Pesaing lain sudah masuk pasar. Saab 340B sudah masuk pasar Jepang. Fokker F-50 sudah diterbangkan Malaysian Airlines. ATR 42 dan ATR 72 sudah terjual 40 unit di Asia Pasifik. Sementara BAe 146 sudah terjual 50 unit di Asia Pasifik.

Memasarkan pesawat terbang, yang sudah diproduksi ataupun belum jadi, memerlukan strategi khusus. Wakil Presiden Saab Aircraft International, Martin Craigs yang menangani penjualan Saab 340B, mengatakan, untuk menembus pasar Jepang memerlukan waktu enam tahun.

“Memerlukan kesabaran yang luar biasa. Menjual di Asia Pasifik sama sekali berbeda dengan di Eropa dan AS. Tantangannya berat, tapi menarik,” ujar Craigs kepada Angkasa pada akhir tahun 1990.

IPTN pun menyadari hal tersebut. Salah satu strateginya adalah gencar memasarkan produknya di mana-mana, terutama di berbagai pameran kedirgantaraan dunia. IPTN juga sudah melakukan penelitian dan merumuskan ciri-ciri keinginan pasar di AS, Eropa, dan Asia Pasifik. Disimpulkannya bahwa jika seluruh kriteria pasar dalam negeri sudah dipenuhi, N250 bisa bersaing di mana pun.

Di dalam negeri ada kebutuhan pesawat terbang sebagai jembatan udara antara bandara domestik dan bandara internasional atau sebaliknya. Kebutuhan ini menuntut tingkat kenyamanan yang sama dengan tingkat kenyamanan pesawat jet, yang jadi standar di AS dan Eropa.

Kecepatan pesawat terbang dituntut antara 300-325 knots, seperti tuntutan di AS dan Eropa. Di Indonesia banyak bandara yang memiliki landasan pendek, sehingga N250 dirancang bisa mendarat di landasan pendek. Maka N250 potensial untuk dioperasikan di seluruh kawasan Asia, yang juga punya banyak bandara dengan landasan pendek. Jarak terbang antara 700-800 Nm pun sudah memenuhi tuntutan operator dengan opsi sekitar 1.100 Nm.

Bangsa Indonesia memang mampu membuat pesawat terbang. Begitu yang ingin BJ Habibie tegaskan. Besok dalam cerita keduabelas (12), Direktur Komersial IPTN, S Paramayuda akan menceritakan tekadnya untuk membangun pesawat terbang sendiri.