Ini Cerita Pesawat N250 (10)

Assalamualaikum semua …

Pasarnya adalah 1.000-2.000 pesawat terbang berkapasitas 30-80 penumpang untuk kebutuhan dunia pada abad ke-21. Diperkirakan pula bahwa permintaan dunia pada pertengahan tahun 2000 untuk pesawat terbang 15-19 penumpang sejumlah 1.700-1.900 unit. Bahkan diramalkan bahwa 400 unit N250 bakal terserap pasar domestik. Begitu hasil analisis pasar pesawat terbang pada tahun 1980-an.

Memang kebutuhan pesawat komuter regional pada tahun 1990-an mulai terlihat pertumbuhannya, terutama di kawasan Asia Pasifik. Pada waktu itu, di Indonesia pun pesawat terbang 30-80 penumpang memiliki pasar tersendiri. Sebut saja Fokker F-27 yang dioperasikan Merpati Nusantara Airlines dan Hawker Siddeley HS-748 yang diterbangkan Bouraq Indonesia Airlines.

Pasarnya menggiurkan, sehingga industri pesawat terbang memacu diri berlomba memenangkan pasar Asia Pasifik. Pada tahun 1990-2000, ada sekitar dua miliar penduduk di kawasan ini, yang memerlukan transportasi praktis dan cepat untuk bepergian. Pesawat terbang merupakan alat transportasi yang tepat untuk kebutuhan masyarakat tersebut.

Dalam suatu seminar yang digelar Persatuan Insinyur Indonesia (PII) tahun 1990, Oetarjo Diran menyebutkan, kebutuhan dunia pada pesawat komuter sekelas N250 yang tengah dikembangkan Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) diperkirakan 1.000 unit. Angka ini adalah angka konservatif berdasarkan laju perkembangan sistem angkutan udara dunia yang rata-rata 8 persen dan 13 persen di Asia Pasifik.

“Di antaranya, 200 pesawat terbang adalah kebutuhan untuk pasar domestij Indonesia,” ujar pakar penerbangan yang juga perancang CN235 ini (Angkasa No. 3 Tahun I Desember 1990).

Captive market untuk pesawat komuter 50 penumpang sekelas N250, yang harga jualnya 11-12 juta dollar AS, diperkirakan 100 unit. Ini untuk menggantikan 80 pesawat terbang tua milik beberapa maskapai penerbangan domestik. Angka terakhir menunjukkan bahwa jumlah 100 pesawat terbang itu sudah dilampaui hanya oleh dua operator, yakni 65 unit pesanan Merpati dan 62 unit pesanan Bouraq.

Di luar itu, ada 24 unit yang sudah dipesan perusahaan leasing gabungan Amerika Serikat-Swedia, FFV Aerotech Group. Maka BJ Habibie pun memperkirakan bahwa 400 pesawat N250 akan diserap pasar domestik.

Angka kebutuhan 400 pesawat terbang sampai tahun 2000 tersebut diumumkan berdasarkan studi kelayakan IPTN. Jika N250 baru muncul tahun 1996, tantangannya bukan main berat. Dari studi tahun 1990-1991 itu, Indonesia memerlukan sekitar 150 unit pada tahun 1996. Dalam empat tahun, apakah IPTN bisa memroduksi 400 pesawat?

Barangkali menjadi hal yang tidak mungkin. IPTN menyebut bahwa sampai tahun 2000 hanya bisa memroduksi 70 pesawat N250 atau kalau dipercepat pun hanya 100 unit.

Bagaimana pemikiran IPTN dalam merancang pesawat N250 yang tak lepas dari perhitungan ekonomi dan para pesaingnya? Ikuti dalam cerita kesebelas (11) ya.