Industri Terpuruk, Maskapai Inggris Hibernasikan Seluruh Armadanya

Maskapai bujet asal Inggris, easyJet menyatakan telah menghibernasikan (grounded) seluruh armada pesawatnya. Tindakan tersebut dilakukan lantaran pandemi virus Corona membuat industri penerbangan di negara itu terpuruk.

Namun maskapai yang berbasis di Bandara Luton, London ini masih akan melakukan penerbangan penyelamatan untuk memulangkan para pelanggan yang terlantar.

“Sebagai akibat dari pembatasan perjalanan yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang diterapkan oleh pemerintah dalam merespons pandemi virus Corona dan pelaksanaan lockdown nasional di banyak negara Eropa, easyJet, hari ini, melarang terbang sepenuhnya seluruh armada pesawat,” demikian pernyataan easyJet seperti diwartakan kantor berita AFP, Senin (30/3/2020).

“Pada tahap ini tidak ada kepastian tanggal (waktu) untuk memulai kembali penerbangan komersial,” lanjut pernyataan tersebut.

Maskapai ini telah mulai mengandangkan sebagian besar armadanya sejak pekan lalu.

Baca Juga:

Jika Tak Segera Dapat Bailout, Maskapai AS Ancam PHK Puluhan Ribu Pekerja

Penerbangan Sepi, Respon Positif Pemerintah atau Maskapai PHK Karyawan?

EasyJet menambahkan, pihaknya sejauh ini telah mengoperasikan 650 penerbangan penyelamatan, dengan memulangkan lebih dari 45 ribu pelanggan.

“Penerbangan penyelamatan terakhir dioperasikan pada Ahad … Kami akan terus bekerja dengan badan-badan pemerintah untuk mengoperasikan penerbangan penyelamatan tambahan seperti yang diminta,” terang easyJet.

CEO easyJet, Johan Lundgren menyebutkan bahwa para kru telah mengajukan diri untuk mengoperasikan penerbangan penyelamatan tersebut.

“Saya sangat bangga dengan cara orang-orang di easyJet, (mereka) memberikan yang terbaik pada saat yang penuh tantangan ini,” ungkap Lundgren dalam pernyataan tersebut.

Menyusul dikandangkannya seluruh armada, easyJet menyatakan bahwa selama dua bulan sejak Rabu (1/4/2020) mendatang, para kru akan dibayar 80 persen dari upah rata-rata mereka. Hal ini lantaran skema darurat yang diperkenalkan oleh pemerintah Inggris untuk tetap mempertahankan para pekerja maskapai.