Mon. Jan 20th, 2020

Implementasi Airport 4.0, Bagaimana dengan Bandara Kemenhub?

Airport Solutions Indonesia 2019

(kiri-kanan) Ketua Ikatan Ahli Bandar Udara Indonesia (IABI), M Ikhsan Tatang dan Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Polana Banguningsih Pramesti. Sumber gambar: Ery.

                                   

Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Polana Banguningsih Pramesti mengatakan bahwa industri aviasi nasional dalam tahun-tahun ke depan akan menghadapi disrupsi. Dia menyebutkan, setidaknya ada 20 disrupsi yang akan dihadapi, salah satunya adalah teknologi (internet of thing).

“Untuk itu, mungkin dari sekarang desain bandar udara harus mempertimbangkan teknologi 4.0, karena memang ke depannya yang diharapkan oleh penumpang adalah experience. Mungkin mereka lebih senang kalau lebih cepat, lebih efisien, kemudian experience-nya menarik,” tutur Polana usai membuka acara Airport Solutions Indonesia (ASI) 2019 digelar di Jakarta Convention Center, Rabu (4/12/2019).

Polana mengatakan, saat ini sudah ada bandara yang mengembangkan teknologi-teknologi baru, seperti di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai di Bali, dan Bandara Internasional Syamsudin Noor di Banjarmasin. Bandara-bandara tersebut dikelola oleh Angkasa Pura I dan Angkasa Pura II.

“Semuanya sudah mulai mempertimbangkan digital airport atau smart airport. Mungkin beberapa tahun lagi tidak ada lagi check-in yang menggunakan tenaga manusia, semua pakai self-check in. Kemudian baggage drop-nya tanpa dilayani petugas. Jadi makin ke depan makin efisien,” ujarnya.

Ketika ditanya apakah bandara-bandara di bawah pengelolaan Kementerian Perhubungan melalui Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) juga akan mengimplemenasikan konsep Airport 4.0, Polana mengatakan bahwa konsep tersebut hanya diterapkan pada bandara-bandara besar saja.

“Untuk implementasi ini (Airport 4.0) lebih kepada bandara-bandara yang besar, seperti Bandara Aji Pangeran Tumenggung (APT) Pranoto, Samarinda. Sentani, Tarakan itu bisa. Kalau (bandara) yang kecil, kita kan penggunanya juga masyarakat yang barang kali mindset teknologinya enggak terlalu tinggi, sehingga kita tetap ada manualnya,” jawab Polana.

Dengan digelarnya ASI 2019 yang digagas oleh Ikatan Ahli Bandar Udara Indonesia (IABI), Polana berharap acara ini dapat memberikan masukan kepada industri penerbangan nasional, apa yang harus para pelaku industri ini lakukan ke depannya.

ASI 2019 digelar di Jakarta Convention Center pada 4-5 Desember dengan mengangkat tema The Hub for Implementationof Airport 4.0. Ketua Ikatan Ahli Bandar Udara Indonesia (IABI), M Ikhsan Tatang mengatakan bahwa acara dikemas dalam bentuk presentasi dan eksibisi.

“Tema yang dipilih berkaitan dengan isu perkembangan teknologi, dengan harapan tema ini relevan dengan dinamika perkembangan teknologi digital yang begitu cepat, termasuk di industri transportasi udara. (Acara ini) menghadirkan para pembicara dari pemerintah selaku pengambil kebijakan; pengelola bandar udara, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri; asosiasi dan industri swasta penunjang kebandarudaraan,” jelasnya.

Dia berharap, dengan terselenggaranya acara ini dapat memberikan kontribusi positif serta pemahaman yang sama kepada para stakeholder kedirgantaraan di era digital 4.0. Dia juga berharap ke depannya akan terbuka peluang baru dalam bentuk bisnis kebandarudaraan yang lebih aman, nyaman, efektif dan efisien.