Ikatan Pilot Indonesia: Penumpang Pesawat Udara Tes Antigen Saja

Ikatan Pilot Indonesia (IPI)
mengharapkan ada kebijakan pemerintah yang meringankan persyaratan bagi penumpang pesawat udara. Menjadikan tes Antigen sebagai syarat untuk melakukan perjalanan, sebagaimana moda transportasi lain.

Demikian disampaikan dalam konferensi pers IPI di Jakarta, Selasa (26/10/2021). Maka IPI pun mengimbau pemerintah untuk meninjau kembali aturan yang mewajibkan tes PCR bagi penumpang pesawat udara. Aturan yang dimaksud tertuang dalam InMendagri 53 & 54 Tahun 2021 Tanggal 18 Oktober 2021 untuk diberlakukan tanggal 19 Oktober 2021, Surat Edaran Satgas Covid-19 Nomor 21 Tahun 2021 untuk diberlakukan tanggal 21 Oktober 2021, dan Surat Edaran Kementerian Perhubungan SE 88 Tahun 2021 Tanggal 21 Oktober 2021 untuk diberlakukan tanggal 24 Oktober 2021.

“Pesawat komersial dilengkapi HEPA sebagai filter terhadap virus. Menurut kami, transportasi udara semestinya mendapatkan prioritas untuk diutamakan pemulihannya,” ujar Capt Iwan Setyawan, Ketua IPI.

Iwan mengatakan, WHO, IATA, ICAO menyatakan bahwa tes Antigen memiliki akurasi yang baik, lebih murah, dan cepat memberikan hasil, sehingga direkomendasikan untuk digunakan sebagai alat tes.
“Penelitian juga menunjukkan bahwa rasio penularan di dalam pesawat udara sangat rendah. Didukung penerapan protokol kesehatan ketat di bandara serta telah divaksinnya semua pekerja dan penumpang, maka transportasi udara sangat
aman dan mendukung pencegahan penyebaran covid-19,” tuturnya.

Selanjutnya IPI menyampaikan bahwa sektor transportasi udara semenjak pandemi covid-19 semakin memprihatinkan. Menurunnya jumlah
penumpang berimbas pada berkurangnya jumlah penerbangan. Pengurangan pengoperasian pesawat udara menjadikan berkurangnya kebutuhan sumber daya manusia. Imbasnya pula pada
penundaan, pengurangan, dan pemotongan gaji, bahkan merumahkan dan pemutusan hubungan kerja. Ujungnya berimbas pada kesejahteraan pekerja transportasi udara, baik pilot, awak kabin, teknisi, pengatur lalu lintas udara, petugas bandara, maupun pekerja lain yang terkait.

“Situasi tersebut menimbulkan dampak psikologis atau human factor pada pekerja transportasi udara sebagai garda dan pelaku pelayanan dan keselamatan penerbangan,” ungkap Iwan, yang kemudian berharap, “Semoga transportasi udara segera bangkit kembali di bumi ibu pertiwi Indonesia.”

Foto: Angkasa Pura II