Tue. Feb 25th, 2020

Harus Naikkan Trafik Internasional Bandara Kualanamu, 39 Perusahaan Tertarik Jadi Mitra AP II

                                   

Sebanyak 39 perusahaan yang berasal dari Asia Timur, Asia Barat, serta kawasan ASEAN dan Eropa sudah mengirimkan Letter of Interest (LoI) untuk menjadi mitra strategis pengembangan dan pengelolaan Bandara Internasional Kualanamu di Sumatera Utara. Target dari PT Angkasa Pura (AP) II (Persero) sebagai pengelola Kualanamu, penyampaian dokumen penawaran dari calon mitra strategis itu pada 22 Juni 2020.

“Hari ini (10/2/2020), kami merilis amandemen Dokumen Permintaan Proposal atau Request for Proposal (RfP) agar mereka segera mengajukan proposal penawaran resmi,” ucap Muhammad Awaluddin, Presiden Direktur PT AP II pada konferensi pers di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Senin (10/2/2020).

Awaluddin menjelaskan, amandemen dokumen RfP yang dirilis hari ini merupakan versi pembaruan dari yang pernah diterbitkan pada 9 Juli 2019. “Kami targetkan rangkaian seleksi untuk mendapat mitra strategis berkelas dunia ini tuntas pada kuartal IV/2020,” ujarnya.

AP II dan mitra strategis terpilih akan menjadi pemegang saham di PT Angkasa Pura Aviasi, yang nantinya menjadi pengelola Bandara Internasional Kualanamu dengan masa konsesi 25 tahun. Komposisi kepemilikan sahamnya adalah AP II minimum 51 persen dan mitra strategis maksimum 49 persen.

Menurut Awaluddin, skema strategic partnership (kemitraan strategis) itu bakal mendatangkan berbagai keuntungan bagi AP II dan Indonesia. Keuntungannya, “Adanya Foreign Direct Investment [FDI] ke Indonesia. Terdiri dari capex commitment dan upfront payment, pengembangan aset di Kualanamu, serta pengembangan 3E, yaitu expansion the traffic, expertise sharing, dan equity partnership.”

Ditegaskannya, peningkatan trafik penumpang internasional menjadi prioritas dalam pengembangan Kualanamu. Saat ini, komposisinya 11 persen penumpang internasional dan 89 persen penumpang domestik dari 10,5 juta penumpang tahun 2018. Penumpang transit pun hanya 2 persen.

“Kalau ditanya berapa rasionya? Benchmark-nya paling tidak 40-45 persen penumpang internasional. Kualanamu ini, dengan posisi strategis dan berkapasitas besar, potensi trafik tinggi, kewilayahannya strategis, masa masih 11 persen (penumpang internasionalnya)?” ungkap Awaludidin.

Ada peluang untuk menumbuhkan trafik itu dengan kemitraan strategis? “Ya, harus! Jadi, bukan cuma bawa equity, itu gampang, tapi bisa meningkatkan jumlah trafik internasional,” jawab Awaluddin, yang mengharapkan pula bahwa trafik internasional ini diterbangkan oleh maskapai nasional.

Dijelaskan oleh Direktur Transformasi dan Portofolio Strategis AP II Armand Hermawan, bukan ekuitas yang pertama dicari, tapi expantion traffic yang harus dilakukan untuk mencapai target trafik yang diharapkan. Dari sekarang yang sekitar 11 juta penumpang, targetnya nanti bisa mencapai 40 juta panumpang.

Armand mengatakan, “Mencari mitra strategis itu merupakan salah satu strategi untuk menjadikan Bandara Kualanamu sebagai regional hub. Misalnya, untuk penerbangan dari Asia Timur ke Asia Utara. Jadi, Kualanamu dengan posisi strategisnya bisa bersaing dengan Bandara Changi, bandara di Kuala Lumpur, dan lainnya. Dengan menjadi hub, penumpang internasional bisa meningkat. Kami punya target cukup agresif. Pada tahun 2025, bisa jadi strong dan meningkatkan posisi Kualanamu menjadi international airport.”

Awaluddin pun menegaskan, tujuan dari pencarian mitra strategis itu adalah menjadikan Bandara Kualanamu sebagai internasional airport hub di kawasan Barat Indonesia. ”AP II memastikan Bandara Kualanamu akan berkontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi dan pariwisata di Indonesia,” ucapnya.