Thu. Dec 12th, 2019

Hadiah 75th Indonesia Merdeka: Ganti Registrasi PK Jadi RI

Garuda Indonesia PK-GFD

Assalamualaikum semua …

Selalu ada yang menggelitik setiap kali hadir pada perbincangan bulanan partisipan Pusat Studi Air Power Indonesia (PSAPI). Pada pertemuan ke-11 di Jakarta, Kamis (7/11/2019) siang, gelitikan –bukan yang menggelikan atau hasutan, tapi mengundang tanya– itu adalah tentang mengganti kode registrasi pesawat terbang kita.

Adalah pensiunan pilot Garuda Indonesia Capt Shadrach Nababan yang melontarkan isu penggatian kode PK dengan RI. Beberapa media memang pernah memberitakan tentang keinginan mengganti PK jadi RI itu dengan berbagai versi.

Ditanggapi oleh Capt Christian Bisara, pensiunan Ditjen Perhubungan Udara bahwa tahun 1995 pernah diusulkan penggantian PK jadi RI itu. Namun “terjegal” Rusia yang ingin prefix “R” hanya untuk negara koloninya.

Belakangan dikatakannya kalau urgensi penggatian registrasi pesawat itu tidaklah besar. Apalagi kode Indonesia di dunia internasional yang populer adalah INA atau ID, bukan RI.

Tak putus hanya bicara, Shadrach yang memegang ATPL (Air Transport Pilot License) Nomor 917 ini pun menulis opininya tentang pergantian registrasi pesawat itu. Judulnya “Perubahan Aircraft Registration dari PK ke RI”, sebagai berikut.

Registrasi pesawat terbang (aircraft registration) adalah suatu “string” alfanumerik yang mengidentifikasi pesawat terbang sipil. Marka itu dipasang di badan pesawat terbang. Untuk fixed wing ditaruh agak di bagian aft fuselage, sedikit di depan ekor (tidak jarang pada ekor itu sendiri). Maka pada masa lampau, registrasi itu sering dijuluki sebagai “nomor ekor” (tail number).

Kesepakatan dunia untuk membuat tanda lima digit pada setiap pesawat terbang, misalnya PK-GFD, bermula ditetapkan pada Konferensi Internasional di London pada tahun 1913 (London International Radiotelegraphic Conference 1913) dan terakhir disempurnakan pada tahun 1928.

Kesepakatan itu diadopsi pada Konvensi Chicago Artikel Nomor 20 dan harus ditampilkan di bagian-bagian tertentu pada badan pesawat sesuai dengan ketentuan Annex 7. Aircraft Registration Marks tersebut dicantumkan pada semua dokumen resmi berdasarkan Certificate of Registration yang diterbitkan oleh otoritas penerbangan tertentu dan harus dimiliki atau dibawa oleh setiap pesawat terbang sebagai Aircraft Document.

Oleh karena Aircraft Registration Code sejak awal adalah juga merupakan radio call signs (identitas dalam berkomunikasi via radio), maka dia harus unik, berbeda, dan tidak boleh ada yang sama, sehingga untuk itu harus tertata dan terdaftar. Adapun penanganannya secara internasional sampai kini diteruskan dan ditetapkan oleh sidang tahunan International Telecommunication Union (ITU), badan PBB yang bermarkas di Jenewa, Switzerland.

Pada dasarnya, pemilihan Nationality atau Aircraft Registration Code dari suatu negara selalu berkaitan dengan sejarah, budaya, atau jatidiri, dari negara tersebut. Karena registrasi PK adalah warisan kolonial Belanda (PH = Holland, PZ= Suriname), maka setelah Indonesia merdeka sejatinya prefix PK tersebut menjadi tidak relevan bagi Indonesia. Paling tepat adalah RI, yaitu singkatan dari Republik Indonesia.

Prefix “R” itu konon seolah-olah menjadi milik Rusia. Untuk itu, Indonesia perlu melakukan upaya diplomasi dan negosiasi yang intensif dengan Rusia. Peluangnya ada, bahkan sangat besar karena ada beberapa contoh. Filipina misalnya, pada kenyataannya bisa memiliki registrasi yang berawal dengan huruf “R”, yaitu RP.

Prefix “RI” tersebut konon dipakai oleh Rusia pada sebuah satelit yang kini sudah tidak aktif atau kadaluwarsa. Pada tahun 1995, tepat pada perayaan Indonesia setegah abad merdeka, telah ada gagasan untuk mengganti registration mark dari PK menjadi RI. Usulan untuk itu sudah dikoordinasikan oleh Departemen Perhubungan kepada Departemen Pos dan Telekomunikasi. Namun beritanya, usulan itu belum berhasil alias kandas di Sidang Umum ITU.

Seandainya hal itu berhasil, alangkah indahnya bila registrasi RI tersebut disematkan pertama kali pada peluncuran pesawat terbang N250 pada 10 Agustus 1995. Pesawat ini konon merupakan pesawat terbang yang 100% karya anak bangsa Indonesia.

Nah, kini momentum yang indah kembali muncul tahun depan, yaitu tahun 2020, tepat Indonesia merdeka 75 tahun. Sangat diharapkan kementerian terkait segera bekerja sama, sehingga perolehan call sign RI tersebut dapat terwujud.

Inilah hadiah Jubileum ke-75 Indonesia Merdeka!

Baca ini juga ya!