Grup SIA Batalkan 12 Penerbangan ke Indonesia, Garuda?

A330-900neo

Singapore Airlines (SIA) beserta anak maskapai regionalnya, SilkAir membatalkan lebih dari 100 penerbangan internasional. Pembatalan akan berlangsung mulai Maret hingga Mei 2020. Pembatalan tersebut dilakukan lantaran terus berkembangnya wabah virus corona (covid-19) di negara itu.

Saat ini ststus sistem respon wabah penyakit (Disease Outbreak Response System Condition/ DORSCON) di Singapura telah pada tahap oranye atau dua tingkat teratas. Disebutkan dalam sebuah keterangan tertulis maskapai di situs resminya pada Selasa (18/2/2020), pembatalan dilakukan terutama untuk tujuan kota-kota favorit di Jepang, Korea Selatan, Jerman, Amerika Serikat, hingga Indonesia.

Penerbangan pertama yang dibatalkan SIA adalah SQ968 rute Singapura-Jakarta pada 3 Maret 2020, sementara penerbangan terakhir adalah rute Singapura-London dan Tokyo-Singapura pada 31 Mei 2020.

Khusus di Indonesia, ada dua penerbangan SIA yang dibatalkan, sementara SilkAir Sebanyak 10 penerbangan yang dibatalkan.

Berbeda dengan Grup SIA, perusahaan maskapai penerbangan di Indonesia belum melakukan langkah serupa. Meskipun diketahui, Jepang, Korea Selatan dan Singapura merupakan tiga negara dengan kasus covid-19 terbesar di luar Cina. Indonesia sampai saat ini baru melakukan penghentian penerbangan sementara dari dan menuju Cina.

Baca Juga:

Grup Singapore Airlines Batalkan 12 Penerbangan dari dan ke Indonesia

SIA Tambah Frekuensi ke Kolkata, SilkAir Justru Hapus Rute

“Penundaan sementara (rute ke Cina) masih tetap kita berlakukan, karena memang belum ada informasi terbaru dari WHO mengenai kondisi yang memungkinkan itu untuk bisa diselesaikan atau dibuka kembali. Itu (penghentian penerbangan) tergantung dinamikanya, (penutupan) hanya ke Cina, (negara) yang lain tidak kita berlakukan,” tutur Staf khusus sekaligus juru bicara Menteri Perhubungan, Adita Irawati di Kementerian Perhubungan, Senin (24/2/2020).

“Sementara ini kami tidak ada rencana untuk melakukan penutupan penerbangan (ke Singapura), karena kami melihat masing-masing negara sudah melakukan antisipasi yang cukup baik. Dan kami sudah melakukan komunikasi yang terus-menerus, sehingga upaya antisipasi dua pihak ini sudah kita lakukan dengan maksimal,” imbuhnya.

Adita mengatakan, sampai saat ini pemerintah dalam tahap kesimpulan bahwa belum perlu untuk melakukan penutupan penerbangan ke negara lain, kecuali Cina.

Dia menjelaskan, Garuda Indonesia atau maskapai lainnya merupakan entitas bisnis. Mereka akan melihat bagaimana permintaan dari penumpang.

“Untuk saat ini, ketika demand itu masih ada, tentunya tidak akan dilakukan hal itu (penutupan rute), apalagi belum ada allert dari otoritas kesehatan di Indonesia. Saya enggak tahu case-nya SQ (SIA), bisa jadi naturraly karena penumpangnya tidak ada, sehingga dianggap mending dihentikan karena (mungkin) akan membebani (asumsi saya),” ujarnya.

Yang saya tahu, lanjutnya, Garuda sampai saat ini masih berjalan seperti biasa, termasuk penerbangan ke Singapura.

“Jadi intinya, sampai kemudian pemerintah belum menetapkan ada penutupan, ya kami buka (rute) itu kepada maskapai untuk upaya bisnisnya, sesuai dengan demand dan supply-nya yang ada. Jadi belum ada rencana seperti yang dilakukan SQ,” tandasnya.