Garuda Tegaskan Rute ke/dari Australia dan Belanda Tetap Beroperasi

Garuda Indonesia menegaskan layanan penerbangan dari dan menuju Australia dan Belanda akan tetap beroperasi. Pernyataan ini dikeluarkan maskapai menyusul kebijakan restriksi pergerakan pendatang yang dikeluarkan Kementerian Luar Negeri RI (Kemenlu) pada Selasa (17/3/2020) lalu dan mulai efektif berlaku hari ini, Jum’at, 20 Maret 2020.

“Keberlanjutan pengoperasian layanan penerbangan dari dan menuju Australia dan Belanda tersebut merupakan bentuk dukungan Garuda Indonesia untuk memfasilitasi pergerakan warga negara Indonesia yang akan kembali ke Indonesia dari kedua negara tersebut, maupun warga negara Belanda dan Australia yang akan kembali ke negaranya masing-masing dari Indonesia,” terang Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra, Jum’at (20/3/2020).

Irfan menjelaskan, pengoperasian penerbangan tersebut tentunya lakukan dengan menyesuaikan permintaan maupun kebutuhan yang ada. “Frekuensi penerbangan kedua negara tersebut akan kami sesuaikan dengan kebutuhan trafik pergerakan penumpang,” kata Irfan.

Baca Juga:

Kemenlu Larang Pendatang dari 10 Negara, Kemenhub: Larangan Terbangnya Cuma Cina

Luhut: Raja dan Ratu Belanda Ingin Ada Penerbangan Amsterdam-Medan

Kata Irfan, komitmen aspek keselamatan Garuda Indonesia akan terus diperkuat, termasuk upaya preventif pencegahan penyebaran Covid-19 pada lini operasional. “Kami terus berkoordinasi dengan otoritas terkait dalam memastikan prosedur penanganan pandemik ini dapat terimplementasikan dengan baik,” ujarnya.

Saat ini, Garuda Indonesia melayani penerbangan dari dan menuju Belanda melalui rute Jakarta – Amsterdam pp. Sedangkan destinasi Australia, melayani rute Jakarta – Sydney pp, Denpasar – Sydney pp, Jakarta – Melbourne pp, Denpasar – Melbourne pp, Jakarta – Perth pp dan Denpasar – Perth pp.

Anak usaha Garuda Indonesia, Citilink Indonesia yang juga melayani rute penerbangan Denpasar – Perth.

“Kami turut mengimbau pengguna jasa untuk melakukan pengecekan berkala atas jadwal penerbangan yang dituju, termasuk bagi calon penumpang yang ingin melakukan perubahan jadwal dan re-route rencana penerbangan. Kami turut menerapkan kebijakan yang fleksibel atas kebutuhan perubahan rencana penerbangan tersebut,” tandasnya.

Kebijakan yang ditelurkan Kemenlu tersebut tercetus sehubungan dengan eskalasi pandemik Covid-19 di Indonesia. Kesepuluh negara yang dimaksud adalah Cina, Iran, Italia, Korea Selatan, Vatikan, Spayol, Perancis, Jerman, Swiss dan Inggris.

Kebijakan tersebut menyebutkan bahwa pendatang atau penumpang pesawat penerbangan internasional yang dalam 14 hari memiliki riwayat mengunjungi 10 negara tersebut tidak diizinkan masuk ataupun transit ke Indonesia.

Sedangkan bagi warga negara Indonesia yang memiliki riwayat kunjungan ke negara-negara itu dalam tempo yang sama akan dilakukan pemeriksaan oleh Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) setibanya di Tanah Air.