Garuda Indonesia Patok Kapasitas Penumpang Hanya 63 Persen

Read Time:1 Minute

Dengan diterbitkannya Surat Edaran Nomor 13 Tahun 2020 tentang Operasional Transportasi Udara dalam Masa Kegiatan Masyarakat Produktif dan Aman dari COVID-19, pemerintah meningkatkan kapasitas penumpang pesawat dalam setiap penerbangan maksimal 70 persen dari sebelumnya hanya 50 persen.

Namun demikian, Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra mengungkapkan bahwa ketentuan tersebut tidak bisa sepenuhnya diterapkan di maskapai yang ia pimpin.

Disitir dari detik.com, Irfan menjelaskan bahwa konfigurasi kursi yang berbeda dengan maskapai dalam negeri lainnya serta protokol penjarakan fisik (physical distancing), batas kapasitas penumpang di Garuda maksimal hanya 63 persen.

“Tapi itu kalau untuk khususnya Garuda jatuhnya 63 persen. Karena tempat duduk (armada Boeing) 737 kita itu tengahnya kosong. Kita kan juga ada business class, nah itu jadi sendiri-sendiri,” terang Irfan dalam webinar Studium Generale Binus University, Selasa (16/6/2020).

Dengan kapasitas tersebut, dia memandang operasional layanan penerbangan tak cukup untuk menghidupi maskapai.

“Apakah itu cukup untuk menghidupi kita? Tentunya tidak, jawabannya tegas sekali nggak. Tapi kan pilihannya jelas hari ini,” ucap dia.

Baca Juga:

Garuda Indonesia Belum Buka Penerbangan ke Timur Tengah dan Cina

Penerbangan Internasional Masih Belum Bisa Masuk Arab Saudi

Meski perusahaan sangat tertekan dengan kondisi yang penuh tantangan saat ini, namun Irfan menyebut tidak akan memaksakan armada pesawat Garuda mengangkut penumpang dengan kapasitas maksimum.

“Kalau kita ngotot mau ngisi 100 persen, saya sampaikan ke teman-teman di penerbangan, jangan ngotot 100 persen-lah. This is not about us, ini bukan persoalan kita ngotot dengan teman-teman di Departemen Perhubungan. Begitu ini 100 persen, dempet-dempetan di pesawat, yang terjadi masyarakat nggak confident dengan transportasi udara,” urainya.

Selain itu, dia berasumsi bahwa dengan memaksakan kapasitas penumpang 100 persen, pada akhirnya akan memperlambat pemulihan perusahaan di tengah pandemi.

“Kalau masyarakat nggak confident apa yang terjadi? Recovery process kita, yang menurut banyak analis penebangan 2-3 tahun ini makin panjang. Dan kalau recovery nggak cukup, survival mood kita makin nambah. Dalam teori apa pun, survival mood itu nggak bisa lama-lama, itu sudah dying, mati suri kalau lama-lama,” tandasnya.