Gandeng TNI-Polri, Kemenhub Beri Tindakan Hukum Pelepas Balon Udara Secara Liar

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara menggandeng TNI-Polri untuk memantau masyarakat yang melepaskan balon udara secara liar. Mereka yang terbukti meakukan hal tersebut akan dilakukan proses penindakan sesuai hukum yang berlaku.

”Kami terus berkoordinasi dengan pihak TNI-Polri di beberapa wilayah untuk melakukan pemantauan terhadap masyarakat yang melepaskan balon udara secara liar. Bila terbukti melanggar hukum, maka akan dilakukan penindakan sesuai prosedur hukum yang berlaku,” ujar Dirjen Perhubungan Udara, Novie Riyanto, Selasa (26/5/2020).

Novie menjelaskan, balon udara berukuran besar yang dilepaskan ke angkasa dapat melambung tinggi hingga pada ketinggian lintas jelajah pesawat. Jika terjadi demikian, hal itu dapat mengakibatkan terganggunya aktivitas penerbangan, hingga kecelakaan pesawat.

Setiap tahun tercatat terdapar gangguan aktivitas penerbangan yang disebabkan oleh sejumlah balon udara berukuran besar yang melintas di jalur penerbangan pesawat udara di sejumlah wilayah yang memiliki tradisi tersebut.

Novie mengimbau kepada seluruh masyarakat yang memiliki tradisi merayakan Hari Raya Idul Fitri dengan menerbangkan balon udara berukuran besar agar melakukannya secara bijak.

Baca Juga: AirNav: Menerbangkan Balon Udara Secara Liar Diganjar Rp500juta

Dia menjelaskan, pelepasan balon udara berukuran besar dapat berakibat tuntutan pidana sesuai Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 40 Tahun 2018 tentang Penggunaan Balon Udara pada Kegiatan Budaya Masyarakat.

“Kami menghargai  masyarakat di beberapa daerah yang mempunyai tradisi perayaan Idul Fitri dengan balon udara. Namun kami juga mengajak masyarakat untuk bijak dan tidak melepaskan balon udara ke angkasa yang dapat mengganggu keselamatan penerbangan dan membahayakan warga yang tinggal disekitar,” ungkap Novie.

Novie juga mengimbau para petugas menara kontrol lalulintas udara (ATC) agar selalu waspada terhadap keberadaan balon udara liar.

“Petugas Air Traffic Controller (ATC) harus waspada terhadap pergerakan balon udara liar, dan (harus) segera  memberi informasi kepada pesawat yang akan melintasi rute dimaksud. Dan segera melakukan koordinasi dengan Air Traffic Services unit lainnya serta pangkalan udara terkait untuk lakukan penindakan,” tandasnya.

Direktorat Jenderal Perhubungan Udara melalui Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah III Surabaya dan Direktorat Navigasi Penerbangan juga terus melakukan pemantauan terhadap wilayah Wonosobo dan Pekalongan, sebagai wilayah yang memiliki tradisi budaya menerbangkan balon udara.