Federasi Pilot Ingin Gairahkan Lagi Transportasi Udara dan Pariwisata

Read Time:2 Minute

Pergerakan penumpang transportasi udara saat ini terlihat menurun. Dari pengamatan di bandara-bandara besar di Indonesia, penumpang tak seramai dua-tiga tahun lalu. Dalam tiga bulan pada awal tahun 2019 ini terlihat penurunan jumlah penumpang 10%-15%.

Hal tersebut terungkap dalam Forum Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan Federasi Pilot Indonesia (FPI) di Jakarta, Kamis (28/3/2019). Diskusi mengambil tema “Transportasi Udara sebagai Jembatan Ekonomi dan Pariwisata di Indonesia”. Sektor pariwisata memang menjadi bahasan utama dalan forum diskusi FPI yang kedua kalinya pada tahun ini.

“Waktu terbang, saya lihat bandara-bandara kita sudah cukup bagus. Di daerah-daerah tertentu yang ada bandara-bandara itu ada juga potensi wisatanya. Maka sektor pariwisata harus terus digali untuk meningkatkan ekonomi masyarakat,” kata
Capt Hasfrinsyah, Ketua Panitia FGD II itu.

FGD diselenggarakan untuk memberikan sumbangan masukan bagi Pemerintah dan semua pemangku kepentingan di sektor penerbangan dan pariwisata. “Kita diskusi bukan hanya tentang pariwisata saja, tapi semua yang terkait dengan transportasi udara. Kita bisa bicara soal fuel, juga harga tiket mahal yang saat ini hangat dibicarakan,” ujar Capt M Ali Nahdi, Presiden FPI.

Vice President Pertamina Aviation Agus Maulana dihadirkan pula. Namun paparannya singkat saja, tentang dukungannya dalam menambah depo-depo avtur di berbagai wilayah. “Diskusi lebih lanjut bisa dilakukan di lain kesempatan,” katanya, seraya undur diri karena ada kepentingan lain.

Sementara itu, sektor pariwisata yang tahun 2019 menargetkan Indonesia dikunjungi 20 juta wisatawan mancanegara (wisman) membutuhkan dukungan dari sektor perhubungan, khususnya transportasi udara. “Wisman yang datang lewat udara itu 70%. Ada 50 airlines yang memberikan kontribusi mendatangkan wisman itu,” kata Judi Rifanjantoro, Staf Khusus Menteri Pariwisata Bidang Infrastruktur.

Dari data tahun 2017, Grup AirAsia menyumbang 25% wisman, disusul grup Lion Air 15%, grup Garuda Indonesia 13%, grup Singapore Airlines 8%, dan grup Jetstar 6%. Namun secara keseluruhan, kontribusi maskapai penerbangan asing untuk mendatangkan wisman (inbound) masih dominan (64%). Maskapai nasional baru mengangkut 36%-nya, yakni grup Garuda Indonesia (Garuda Indonesia, Citilink Indonesia, Sriwijaya Air, NAM Air) mengangkut 15%-nya, AirAsia Indonesia dan Indonesia AirAsia X 11%, serta grup Lion Air (Lion Air, Batik Air, Wings Air) 10%.

Kapasitas kursi, kata Judi, juga masih belum memenuhi kebutuhan untuk mencapai jumlah target itu. Kapasitas kursi yang dibutuhkan sekitar 28juta, sementara yang ada baru 24,5juta. “Kalau dari penerbangan carter 1juta seats, masih dibutuhkan sekitar 2,5juta seats lagi,” ungkapnya.

Di samping itu, penerbangan langsung dari negara-negara penyumbang wisman terbanyak juga masih minim. Sebut dari India, yang mendatangkan 700.000 wisman, tapi kapasitas tersedianya hanya 30.000 kursi. Mereka umumnya datang lewat Malaysia dan Singapura, yang frekuensi penerbangannya memang banyak.

Begitu juga dari China, yang wisatawannya tumbuh pesat. Indonesia hanya kebagian 2,5juta wisman dari China karena kapasitas penerbangannya juga masih sejumlah itu. Wisman lainnya yang juga tumbuh pesat adalah dari Eropa.

Selain dukungan maskapai penerbangan, termasuk bandara dan airnav, perusahaan tur dan agen perjalanan juga berkontribusi signifikan. ASITA (asosiasi perusahaan tur dan agen perjalanan Indonesia) melakukan berbagai upaya menyesuaikan dengan kebutuhan pasar pada era milenial ini.

“Banyak inovasi dilakukan perusahaan tur dan agen perjalanan untuk memasarkan pariwisata di Indonesia. Paket-paket tur ditawarkan, khususnya ke 10 destinasi Bali Baru,” kata Widjaja Hadinukerto, Direktur Eksekutif ASITA.

Dengan kondisi harga tiket penerbangan yang dinilai tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, permintaan tiket pesawat diakui Widjaja menurun. Penurunannya antara 10%-15%. “Harus segera ada solusi. Kalau dibiarkan lama, bisa-bisa penurunannya mencapai sekitar 30% sampai akhir tahun ini,” ujarnya.