Fri. May 29th, 2020

Emirsyah Satar Minta Keringanan Hukuman

                                   

Tidak ada kerugian negara dalam perusahaan penerbangan Garuda Indonesia. Justru BUMN ini berhasil meraih keuntungan dan selamat dari kebangkrutan. Semua saksi juga menyatakan tidak ada intervensi yang dilakukan oleh mantan Direktur Utama Garuda Indonesia, Emirsyah Satar dalam pengadaan armada di Garuda.

Perkara menyangkut Rolls Royce di Inggris yang diinvestigasi oleh Serious Fraud Office (SFO) dinyatakan telah ditutup karena tidak terdapat cukup bukti dan tidak sesuai kepentingan publik.

Demikian antara lain pembelaan (pledoi) yang disampaikan oleh Emirsyah Satar dalam sidang penyampaian pledoi yang dilaksanakan secara online, Kamis (30/3/2020). Sambil menyampaikan permohonan maaf atas kekhilafannya dan siap bertanggung jawab, Emirsyah pun meminta keringanan hukuman yang seadil-adilnya kepada Majelis Hakim, atas tuntutan yang disampaikan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Emirsyah menyatakan, tidak semua yang dinyatakan dalan Surat Tuntutan adalah benar. Dia mengaku tidak mengetahui dan tidak bermaksud melakukan pencucian uang. Tidak pernah pula menitipkan uang kepada Soetikno Soedarjo.

Dia juga menyatakan, tidak melakukan back to back loan sebagaimana dituduhkan karena rumah di Permata Hijau yang ditempatkan sebagai jaminan kredit di bank adalah harta yang sah. Rumah ini sudah ia beli tahun 2004 sebelum menjabat di Garuda, sehingga tidak benar kalau rumah itu adalah hasil tukar tanah ataupun dibeli menggunakan fee dari pengadaan di Garuda.

Tentang jual beli apartemen Silversea di Singapura antara Emirsyah dengan Soetikno adalah transaksi ril bukan transaksi fiktif. Semua pembayaran biaya perawatan dan penerimaan uang sewa apartemen dilakukan Soetikno. Apartemen tersebut juga sudah dikeluarkan Emirsyah dari LHKPN-nya.

Dalam salah satu bagian pembelaan itu, seperti juga yang disampaikan oleh para saksi, Emirsyah menegaskan bahwa ia tidak pernah mengintervensi atau mengarahkan pengadaan di Garuda. Dia sama sekali tidak mengetahui dan tidak bermaksud untuk melakukan pencucian uang.

Ditambahkannya bahwa keputusan pengadaan di Garuda selalu diambil Dewan Direksi berdasarkan usulan dari tim dalam forum rapat resmi. Sudah pula dimintakan persetujuan kepada Dewan Komisaris karena semua berkomitmen untuk membesarkan Garuda.

Jadi, kata Emirsyah, tidak benar bahwa pengadaan sudah merugikan atau inefisiensi di Garuda. “Seluruh proses yang dilakukan, justru membuat Garuda selalu mendapatkan harga yang lebih murah dan keuntungan, sehingga dapat dipastikan tidak ada kerugian negara dalam kasus ini,” ungkapnya.

Beberapa keuntungan yang didapatkan Garuda, antara lain, cash back Engine Concession dari Rolls Royce senilai 26,6 juta dollar AS per pesawat yang dibeli dan menggunakan mesin Rolls Royce. Juga diskon dari Airbus 54 persen dan Rolls Royce 72 persen untuk tiap unit pesawat Airbus A330. Dengan begitu, harga pesawat Aibus A330 yang didapatkan Garuda adalah 81.326.317 dollar AS, jauh di bawah harga tanpa diskon yang 171.949.317 dollar AS.

Di sisi lain, Emirsyah menyampaikan penyesalannya atas kasus yang terjadi ketika. “Apabila waktu dapat diputar kembali, maka saya akan memilih untuk tidak menjabat sebagai Direktur Utama Garuda,” ucapnya.

Ditambahkannya, karena kekhilafan yang dilakukannya telah mengecewakan seluruh rakyat Indonesia, khususnya keluarga serta kerabatnya. Harus pula kehilangan istri tercinta dan membuat keluarga menanggung malu.

Pada tahun 2005, Emirsyah diminta oleh Menteri BUMN, Sugiharto untuk kembali ke Garuda dan menyelamatkannya dari ambang kebangkrutan. Saat itu, ia sudah nyaman dengan kedudukannya sebagai Wakil Direktur Utama Bank Danamon. Setelah tiga kali diminta oleh Menteri BUMN, maka dengan semangat ingin berbakti kepada negara dan mengembangkan Garuda menjadi perusahaan kelas dunia, akhirnya Emirsyah menerima tawaran tersebut.

Garuda pada tahun 2005 berada dalam keadaan nyaris bangkrut. Utang Garuda mencapai 800 juta dollar AS dan kas perusahaan tidak cukup menutupi operasional, termasuk membayar gaji karyawan.

Kreditur mengancam menyita pesawat, yang artinya nilai Garuda negatif. Di lain sisi, utilitas pesawat tidak optimal karena sistem perawatan mesin tidak efisien dan mahal. Ini mengakibatkan tingkat ketepatan waktu penerbangan (on-time performance) jelek, yang berarti sering delayed.

Melalui program transformasi “Quantum Leap”, Emirsyah membawa Garuda meraih keuntungan dan menjadikannya airline kelas dunia. Garuda berhasil menjadi “airline bintang lima” (5 star-airlines) dan masuk dalam “10 maskapai penerbangan terbaik dunia”. Garuda juga menjadi airline dengan awak kabin terbaik (world’s best cabin crew) dan world’s best economy class.

Garuda juga menjadi maskapai penerbangan Indonesia pertama yang mendapat sertifikasi IOSA (International Operational Safety Audit). Kemudian Garuda bergabung dalam aliansi penerbangan internasional “Skyteam” bersama 19 maskapai penerbangan dunia lainnya.

Pada saat jayanya dalam kepemimpinan Emirsyah, Garuda bernilai miliaran dollar AS dan mampu IPO tahun 2011 dengan valuasi perusahaan senilai 1,8miliar dollar AS atau Rp18triliun. Dari itu, negara mendapatkan Rp4,7triliun dengan melepas 26 persen saham.