Dirut PT JAS, Adji Gunawan: Dampak Pandemi Efisiensi Berlanjut, Optimis Penerbangan Logistik

Read Time:5 Minute

Dampak pandemi covid-19 yang membuat maskapai penerbangan terpuruk, juga berdampak pada perusahaan jasa penanganan pesawat di darat (ground handling). PT Jasa Angkasa Semesta (JAS) Airport Services, salah satunya, yang meski terdampak buruk, tapi berupaya untuk bertahan dan tetap optimis.

Berbagai strategi dilakukan, termasuk memotong gaji 10-25 persen dan merumahkan lebih dari 20 persen karyawan. “Sedih juga dan ini berat buat kita,” kata Adji Gunawan, Direktur Utama PT JAS.

Apa saja yang sudah dilakukan JAS selama masa pandemi untuk bisa bertahan. Bagaimana pula kinerja dan optimismenya untuk masa yang akan datang? Bersama beberapa media, Indoaviation berbincang dengan pimpinan JAS, Adji Gunawan usai makan siang di Jakarta, Selasa (11/1/2022).

Bagaimana kinerja tahun 2021? – Hampir sama dengan tahun 2020, tapi kan tahun 2020 kita masih merasakan (operasional yang normal) sampai Mei. Satu semester dapat kinerja positif, baru pada semester kedua terdampak. Namun karena sudah terkondisi, expenses kita potong dan melakukan efisiensi, jadinya terbantu. Kalau tak lakukan efisiensi, berat!

Untuk efisiensi, apa saja yang dilakukan? 
– Begitu tahu ada pandemi, saya kan ada di terminal (Bandara Soekarno-Hatta). Saya pernah punya pengalaman terdampak SARS. Asalnya kan sama, dari China. Tiga bulan (maskapai) China gak terbang, siap-siap karyawan yang menanganinya dialihkan ke tempat lain. Kita kan lihat dari jumlah pesawat yang masuk bandara, gak masalah kalau jumlah penumpangnya. Tahun 2020 itu yang pasti gak tangani penumpang. Petugas di terminal dipindahkan ke kargo; jadi multitasking. Tenaga mereka diberdayakan dan dilakukan rotasi kerja. Pada Maret 2020, Saudia tutup border. Ada 15 airlines terdampak. Langsung mereka cut. Penumpang pada Maret itu cuma ada 100 orang. Maret itu juga, langsung kita potong overtime, potong gaji, tidak perpanjang kontrak, pensiun dini. Biaya rutin dan gak rutin kita review lagi. Langkah ini signifikan. Yang gak kita lakukan adalah additional day off. Itu menyumbang 15 persen potongannya. Kita juga lakukan WFH (work from home). 

Apakah ada lay off karyawan? 
– Ada, terpaksa lay off. Angkanya sampai ratusan, antara 600-700 orang. Sekarang karyawan JAS ada 2.300. Yang berat buat kita adalah di Denpasar, Bali, karena gak ada pesawat internasional yang terbang. Padahal biasanya ada penerbangan internasional 60-70 per hari. Begitu Denpasar (Bandara I Gusti Ngurah Rai) ditutup, ratusan karyawan kita “rumahkan”. Ada yang dipotong gaji dan sebagian besar WFH.

Operasional di bandara mana yang paling kena dampak? 
– Bandara di Denpasar, tapi semua sih kena. Bandara Soekarno-Hatta, Bandara Kualanamu, Bandara Halim Perdanakusuma, dan bandara di Yogya. Kita paling banyak tangani maskapai internasional, kalau domestik hanya layani AirAsia Indonesia, yang lama juga off. Kemarin-kemarin ada sedikit kegiatan di Denpasar  karena ada penerbangan domestik AirAsia. 

Kalau revenue tahun 2020 dan 2021 turun berapa persen?
– Hampir 50 persen tahun 2020, tapi tahun 2021 turunnya 11-12 persen karena ada peningkatan pesawat yang bawa kargo. Pesawatnya untuk penumpang tapi bawa kargo. Ada pesawat yang bawa hanya kurang dari 50 orang, tapi kargonya full.  Barang-barang ini awalnya dibawa lewat laut, tapi karena ada kendala pada penanganan di Priok (Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta), berpindah jadi diangkut pesawat.

Sekarang, berapa maskapai yang ditangani JAS?
– Masih seperti sebelumnya, tapi maskapai yang masih tetap offline sampai sekarang adalah yang dari Australia. Ada Jetstar dan Qantas, bahkan Qantas gak terbang sama sekali. Kalau yang lain, seperti Singapore Airlines, Cathay Pacific, dan maskapai dari Timur Tengah masih terbang, tapi frekuensinya rendah; seminggu dua atau tiga kali. Bahkan sekarang ada isu yang kita alami, terkait EVA Air yang terbang dari Taipei ke Jakarta. Ini problem mereka menyangkut kru pesawat yang gak mau terbang karena alasan karantina.

Bagaimana proyeksi JAS untuk tahun 2022? 
– Kita cuma pegang referensi dari IATA (asosiasi transportasi udara internasional). IATA bilang, kuartal II baru ada penumpang. Sejalan dengan referensi ini, Qantas akan kembali terbang, entah ke Jakarta atau Denpasar, pada akhir Maret 2022. Kata IATA, untuk penumpang, full recover lagi baru pada Februari 2023. Jadi, pertumbuhan penumpang akan tertahan dua tahun dan mulai naik pada tahun 2023. 

Kalau belanja modal, apakah masih ditahan? 
– Iya. Kita kan yang terbesar untuk capex (capital expenses) ground support equipment (GSE). Kalau yang kita layani sih gak berkurang, jadi kita sesuai kebutuhan saja. Begitu tiarap, ya sudah. Kita gak perlu GSE baru-baru atau yang bagus-bagus. Capex kita paling untuk pembaruan teknologi informasi (IT). Kayaknya nilainya gak besar.

Kalau efisiensi, apa masih dilakukan dan bagaimana dengan pergerakan angkutan kargo?
– Tahun ini efisiensi masih lanjut. Cuma kan ini service based. Untuk orang Indonesia, face to face masih diperlukan.  Tentang angkutan kargo, kita lihat gerakan di (angkutan) laut. Kalau masih ada kendala di laut, kargo akan masuk ke udara lagi. Saya pelajari dari kejadian tsunami di Aceh dan SARS, angkutan logistik jalan terus. Sempat kaget pergerakannya turun, tapi naik lagi sampai 75 persen. Sekarang yang penting itu internet ekonomi. Marketplace nanti memang yang oke. 

Bagaimana dengan angkutan vaksin? 
– Kita angkanya sudah sampai hampir 80 persen yang masuk ke Indonesia; yang kami tangani. Vaksin itu diangkut pesawat dari maskapai Cathay Pacific, Qatar Airways, Emirates, Etihad Airways, Japan Airlines, Raya Airways, Singapore Airlines, K-Mile, dan MyIndo Airlines. Total vaksin yang  sudah kita tangani 135 juta dosis untuk semua jenis vaksin dan pada tahun berjalan ini, sudah lima juta dosis dan masih berlanjut. Untuk tahun ini, angkanya saya gak tahu persis, tapi yang berjalan adalah dengan Covax, untuk menyangkut 75 juta dosis vaksin dan sampai saat ini belum sampai 30 juta.

Apa ada penanganan dan tim khusus untuk angkutan vaksin?
– Tak ada tim khusus; siapa petugas hari itu, mereka yang menanganinya. Kita sudah sertified untuk handle farma. Sudah ada SOP-nya pula dalam menangani vaksin dan nanti distribusinya oleh Biofarma di Bandung. Penanganan khusus itu kalau penerbangan MyIndo dan Raya yang membawa vaksin Pfizer, yang ditangani DHL. Vaksin itu sangat sensitif waktu; begitu dibuka harus cepat dikonsumsi. Batas waktunya 10 jam.

Selain Logistik dan vaksin, apa nanti akan menangani MotoGP?
– Tahun 2021, kita ikut tangani WSBK yang digelar di Mandalika, Lombok. Semua ridder dan tim, kita tangani. Kalau MotoGP,  kita belum firm, tapi kemungkinan besar kita tangani kalau lewat Jakarta. Sudah ada diskusi sama mereka dan jumlah personelnya bisa dua kali lipat (dari WSBK). Masih belum pasti karena mungkin ada delayed.

Kalau G20, ikut pula?
– Itu juga, kenapa Halim (Bandara Halim Perdankusuma) direvitalisasi. Kita kan juga beroperasi di Halim. Sekarang sebagian penerbangan sudah dialihkan ke Cengkareng (Bandara Soekarno-Hatta), tapi di Cengkareng bermasalah karena tempat parkirnya gak cukup. Lihat saja di Terminal 1 dan 2, banyak yang parkir kan? Karena pesawatnya gak terbang.

JAS masih operasi di Halim? 
– Nol kegiatan; sudah banyak yang pindah ke Cengkareng. Barang juga sudah ke Cengkareng semua. Kasihan juga yang kemarin-kemarin menanganinya di Halim dengan tarif barang per kilogram Rp1.200, di Cengkareng jadi dua dua kali lipat; Rp2.400 per kilogram. 

Bagaimana dengan operasional di Bandara Kertajati? 
– Masih jalan. Kita menangani Asia Cargo empat kali sehari, tapi domestik. Kita tangani pesawat itu yang angkut barangnya JNE. 

Tahun ini ada target pertumbuhan revenue? 
– Belum ada. Masih konservatif. Kemarin-kemarin mau prediksi naik, eh… omicron (salah satu varian dari covid-19) keluar. Itu berdampak banget. Ada lagi varian baru, kan?