Dirut AP 1 Ungkap Alasan Bandara Dhoho Jadi Proyek Strategis Nasional

Bandara Dhoho di Kediri direncanakan menjadi salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) dan menjadi gerbang alternatif menuju Jawa Timur selain Bandara Juanda di Surabaya.

Pengembangan Bandara Dhoho dinilai sangat potensial karena dapat menjadi bandara yang akan dapat membuka area ke wilayah Tulung Agung, Blitar, Ponorogo, Trenggalek, Madiun, Magetan dan sekitarnya.

“Di Jawa Timur, kita punya Bandara Juanda yang secara kapasitas semakin tidak memadai. Bandara Kediri bisa kita kembangkan sebagai salah satu opsi untuk konsep pengembangan multi-airport system. Jadi nanti kita melakukan pengaturan traffic,” ujar Direktur Utama Angkasa Pura I (AP 1), Faik Fahmi saat seremoni penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan Gudang Garam terkait rencana kerja sama pengusahaan bandara tersebut, Jakarta, Selasa (10/3/2020).

Dari MoU yang ditandatangani hari ini, ke depannya kedua belah pihak akan melakukan kajian secara bersama. “Intinya kita membuat ‘payung’ dulu agar kita bisa lebih terbuka dan kita bisa melaksanakan aktivitas yang sudah kita siapkan sebelumnya secara lebih efektif,” kata Faik.

Faik menjelaskan, sekarang ini kapasitas di Bandara Juanda sekitar 16 juta penumpang per tahun. Sepanjang tahun 2018, penumpang bandara ini meningkat tajam hingga ke angka 21 juta orang. Akan tetapi, tahun 2019 jumlah penumpang menyusut menjadi sekitar 16 juta orang.

Baca Juga:

15 April Pengembangan Bandara Dhoho Kediri Dimulai, 2 Tahun Selesai

Ngurah Rai Kehilangan 6.800 Penumpang Cina Per Hari, AP 1 Rugi Rp48M

“Sekarang ini kita sedang meningkatkan kapasitas di Terminal 1, dari 9 juta ke 15 juta. Kalau Terminal 1 sebelum Lebaran selesai, maka jumlah kapasitas yang bisa kita siapkan 21 juta. Akan semakin tidak memadai kalau pertumbuhan traffic-nya semakin besar, sehingga memang perlu dipikirkan alternatif bandara di Jawa Timur untuk men-support pertumbuhan traffic dan pertumbuhan ekonomi di wilayah Jawa Timur,” terangnya.

Diungkapkan Faik, panandatangan Mou merupakan hal termudah, tapi bagian tersulitnya adalah bagaimana merealisasikan MoU ini sampai ke tahapan penyelesaian.

“Direncanakan, kalau jadwal tidak bergeser, 15 April kita akan melakukan groundbreaking. Secara paralel, konsep bisnisnya kita bicarakan, tapi secara fisik juga kita mulai lakukan,” imbuhnya.

Pada tahap awal, Bandara Dhoho direncanakan akan berdiri di atas lahan seluas 13.558 meter persegi dari luas total lahan bandara hampir 400 hektar. Bandara ini nantinya akan memiliki landas pacu berukuran 2.400 meter x 45 meter.

Bandara ini digadang akan memiliki kapasitas penumpang sebanyak 1,5 juta orang per tahun. Rencananya landas pacu bandara ini akan dilakukan perpanjangan lagi sehingga menjadi 3.300 meter. Kapasitas daya tampung penumpangnya juga akan ditingkatkan lagi hingga menjadi 5 juta orang per tahun.

Sementara itu, Direktur PT Gudang Garam, Istata T. Siddharta mengatakan, dirinya membayangkan sistem multi-airport antara Surabaya dan Kediri, di mana Kediri bisa menjadi bandara penyeimbang dan embarkasi untuk Jawa Timur.

“Jika kondisi ini dapat dicapai, maka akses ke terminal embarkasi dari daerah selatan Jawa Timur akan menjadi jauh lebih mudah,” kata dia.

“Dengan adanya Bandara Kediri dan jaringan jalan bebas hambatan yang menghubungkan bagian selatan dan utara Jawa Timur, kami mengharapkan pertumbuhan (ekonomi) Provinsi Jawa Timur dan kontribusi pertumbuhan nasional dalam waktu yang lebih singkat akan tercapai,” pungkasnya.