Dari Hercules ke Super Hercules, Satu Pesawat dengan Banyak Kemampuan dan Keunggulan

Kehadiran Lockheed Martin pada gelaran Indodefence 2022 (2-5 November 2022) menegaskan kembali rencana kedatangan C-130J Super Hercules yang akan memperkuat TNI Angkatan Udara (TNI AU). Perwakilan Lockheed Martin; Richard C. Johnston, Director, Business Development for International Air Mobility and Maritime Mission, menyampaikan bahwa 1 dari 5 unit C-130J pesanan TNI AU akan tiba pada Februari atau Maret 2023. Kepada media, ia juga menjelaskan serangkaian fakta dan keunggulan dari C-130J.

Sebagai pesawat multiperan, C-130J menurut Johnston memberikan banyak peluang bagi Indonesia. Ia bahkan menyelaraskan hal ini dengan moto TNI AU, Swa Bhuwana Paksa yang bermakna sebagai sayap tanah air Indonesia.  “Wings of the motherland, moto TNI AU,  adalah model yang pas untuk pesawat C-130,” jelasnya. Terutama dengan keunggulan C-130 dalam hal memuat kargo atau penumpang di bagian belakang pesawat. Kemampuan ini memungkinkan pesawat C-130 untuk mengangkut berbagai kebutuhan kemanusiaan seperti obat-obatan, makanan, peralatan konstruksi, juga tenaga kesehatan.

Pesawat C-130 merupakan satu-satunya pesawat yang didesain khusus untuk mendarat di landasan pendek atau jalanan. “Pesawat dengan mesin jet tidak dapat melakukan ini. Pesawat seukuran sama dengan mesin jet membutuhkan landasan 300 meter lebih panjang untuk lepas landas dan mendarat,” jelas Johnston.

Super Hercules dapat beroperasi di landasan seadanya (tanpa perkerasan maupun perlakuan khusus) sepanjang 2.000 kaki di pegunungan yang tinggi. Pendaratan dapat dilakukan di permukaan tanah yang padat, kerikil, rumput, maupun pasir. Dibandingkan C-130H pendahulunya, C-130J memiliki kemampuan menanjak (climb rate) 50 persen lebih tinggi dan ketinggian jelajah awal (Initial Cruise Altitude) 20 persen lebih tinggi.

Dengan gabungan sistem navigasi  pesawat yang sudah teruji, C-130J dapat mengarahkan pilot ke landasan yang  sesuai dengan cepat dan aman. Selain itu, C-130J dapat beroperasi di malam hari dan dalam cuaca buruk sekali pun.

Biasanya, kekhawatiran pertama terhadap pesawat berbaling-baling adalah kemampuan mesin pesawat untuk bertahan menghadapi debu, pasir, atau bahkan kerikil yang beterbangan dari landasan akibat terkena angin baling-baling. Pada C-130J, kekhawatiran ini tidak perlu ada berkat sistem pengaturan propulsi yang dimilikinya. Pengaturan “Hotel” akan mengubah sudut bilah propeller sehingga mengurangi debu pasir pada saat pengoperasian di darat. “Pesawat (C-130J) memiliki tombol pada flight deck. Dengan menekan tombol ini, akan menjauhkan mesin dari propeller sehingga debu pasir berkurang hingga 95 persen,” jelas Johnston.

Pesawat Angkut Taktis

Pesawat C-130 Hercules merupakan pesawat legendaris di kelasnya. Perjalanan panjangnya sebagai pesawat angkut udara taktis yang dapat diandalkan telah juga dibuktikan oleh Indonesia melalui TNI AU. Patut dicatat, Indonesia merupakan negara pertama di luar Amerika Serikat yang mengoperasikan C-130 Hercules. Indonesia juga menjadi salah satu negara yang masih memiliki dan mengoperasikan C-130 generasi lama. Keandalan Hercules memang membuat pesawat ini sayang untuk dipensiunkan. Bahkan ketika bermunculan varian-varian C-130 yang lebih modern, C-130 generasi awal masih sanggup menunjukkan kiprahnya.

Sebagai pesawat angkut taktis terkemuka, sejak awal C-130 dirancang dan dikembangkan dengan mempertimbangkan keandalannya untuk melakukan berbagai misi. Hercules adalah epitome keunggulan sebuah pesawat angkut dengan karakteristik yang dimilikinya, trengginas sekaligus mumpuni dalam berbagai misi.

Kehadiran C-130J Super Hercules bisa dibilang tidak hanya menjaga eksistensi C-130 Hercules, tapi juga memantapkan posisinya di dunia penerbangan. Pesawat C-130J merupakan armada Hercules terbaru yang menggantikan C-130E yang sudah lama dan sebagian C-130H. Sesuai julukannya, Super Hercules, C-130J menawarkan performa superior pesawat Hercules dengan berbagai kemampuan baru. Tidak hanya itu, kemampuan ini juga dapat disesuaikan dengan kebutuhan operasi. Pesawat C-130J menggabungkan teknologi terkini yang canggih hingga mampu mengurangi kebutuhan tenaga awak dan menurunkan biaya operasional. Kebutuhan tenaga awak pada C-130E/H adalah 5 personel (2 pilot, navigator, teknisi, dan loadmaster). Sedangkan, pada C-130J hanya dibutuhkan 3 personel (2 pilot dan loadmaster).

Menurut Johnston, secara signifikan, tidak banyak pelatihan yang dibutuhkan untuk menguasai keahlian dalam pengoperasian C-130J bagi yang sudah berpengalaman dengan C-130A atau C130-B. Demikian halnya dengan personel TNI AU yang tengah menjalani pelatihan di Hercules Training Center, Amerika Serikat. Para personel tersebut bisa memahami teknologi yang diterapkan berbeda dibandingkan dengan C130A. Mulai dari HUD (Heads Up Display) hingga TCAS (Traffic Alert and Collision Avoidance System). Perbedaan utama dalam pengoperasian C-130J adalah jumlah awak, tidak ada navigator dan teknisi.

Daya muat bebannya mencapai 21.183 kg dengan jangkauan hingga 4.000 km. Super Hercules memiliki kecepatan jelajah maksimum 675 km/jam. Secara keseluruhan, C-130J memberikan tingkat efisiensi operasional lebih besar dibandingkan C-130 generasi lama, dengan perbandingan sekitar 2:1. Bahan bakar lebih efisien karena 15-18 persen lebih irit. Pesawat C-130J juga lebih ramah lingkungan. Singkat kata, C-130J merupakan pesawat Hercules dengan  efektivitas dan efisiensi yang lebih baik.

Keluarga C-130J terdiri dari 11 varian dengan cakupan kemampuan untuk mendukung lebih dari 16 misi yang berbeda. Akan halnya C-130J-30 yang akan memperkuat TNI AU, varian ini merupakan versi lebih panjang dari C-130J. C-130J-30 memiliki badan lebih panjang 15 kaki (4,57 m). Dengan panjang 34,37 m, C-130J-30 memiliki ruang kargo lebih besar yang dapat memuat 2 palet peralatan tambahan.

Perbandingan kapasitas muat

  C-130 C-130J-30
Tandu 74 97
Palet 6 8
Pasukan 92 128
Pasukan terjun payung 64 92
Bundel Container Delivery System (CDS) 15 24

Catatan: atau kombinasi semuanya sesuai kapasitas kargo atau batas berat maksimum.

Pesawat C-130J Hercules pertama kali dioperasikan oleh AU Inggris pada tahun 1999. Saat ini C-130J telah mencatat lebih dari 2,5 juta jam terbang. Sudah lebih dari 500 unit terkirim dan dioperasikan oleh 26 operator yang tersebar di 22 negara. Terhitung 18 varian misi yang dijalankan oleh C-130J Hercule di seluruh dunia. Mulai dari misi pertempuran, kemanusiaan, operasi khusus, pengisian bahan bakar di udara, pemadam kebakaran, hingga misi penyelamatan. Salah satu catatan penting bagi C-130J Hercules, pesawat ini telah meraih 54 rekor pencapaian World Aviation Records. Catatan rekor ini berkaitan dengan kecepatan, ketinggian dengan beban muatan, serta lepas landas dan pendaratan di landasan pendek dengan beban muatan.

Karakteristik C-130J-30

Batas ketinggian 8000 meter dengan 20.227 kg beban muatan
Kecepatan 0,58 Mach pada ketinggian 6.706 meter
Beban muatan maksimum 19.958 kg
Jangkauan dengan muatan normal maksimum 2.100 nautical miles