Dalih Garuda Tutup Sejumlah Rute Penerbangan di Timur Indonesia

A330-900neo

Garuda Indonesia menutup sejumlah rute penerbangan di wilayah timur Indonesia. Menurut manajemen maskapai, alasan di balik rencana penutupan sejumlah rute itu sebagai bagian dari strategi bertahan di tengah tekanan di sektor penerbangan domestik.

“Kita mengalami (beban) berat, BUMN Garuda untuk bisa survive sedemikian dan kebutuhan ke daerah remote (terpencil) penting juga. Karena Garuda enggak hanya menjadi untung, di Halmahera, dan daerah-daerah lainnya, untuk bangun sinergi,” tutur Direktur Operasi Garuda, Bambang Adisurya Angkasa saat rapat di Komisi VI DPR, Senin (25/11/2019).

“Contoh model Jakarta-Nias. Bupati Nias kasih jaminan untuk mendukung pariwisata di Sulawesi dan sedang menata untuk optimumkan pesawat-pesawat besar kita di bandara utama, Denpasar, Surabaya, Balikpapan, (pesawat) berbadan besar, agar kapasitas meningkat dan enggak nambah slot,” tegasnya.

Bambang menjelaskan, pesawat berbadan besar berbeda dengan pesawat sejenis ATR yang biasa dipergunakan untuk bandara di wilayah terpencil atau remote.

“Sekarang sedang konsolidasi dengan bupati untuk dapat kesepakatan, dan stakeholder untuk membantu,” kata dia.

Dalam Rapat Kerja sebelumnya dengan Komisi VI DPR RI pada 21 Mei 2019, Direktur Utama Garuda Indonesia, I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra mengatakan bahwa biaya penerbangan sudah amat mahal.

Kebijakan pemerintah yang meminta maskapai menurunkan tarif batas atas (TBA) harga tiket pesawat sebesar 15% memperparah derita. Akibatnya, Garuda memutuskan menutup sejumlah rute penerbangan ke area terpencil juga penerbangan ke beberapa negara.

“Memang dampaknya kita tidak bisa lagi terbang ke daerah-daerah remote. Terus terang kita diprotes juga sama (Bupati) Belitung. (Kerugiannya) US$1,3juta (sekitar Rp18,2miliar) per 6 bulan. Jadi kita tidak bisa lagi mensubsidi dari jalur-jalur gemuk seperti Surabaya, Denpasar, Yogyakarta ke daerah-daerah yang di ujung,” papar Ari saat itu.

Selain Belitung, Garuda juga mengurangi penerbangan ke Pulau Morotai, Maumere dan Bima. Ari menyebutkan, harga avtur di daerah tersebut juga jauh lebih mahal dibanding daerah lain. Harganya bisa 80% di atas harga bahan bakar biasanya.

Selain rute ke daerah terpencil, Garuda juga menutup penerbangan rute internasional seperti Mumbai-Denpasar dan Belitung-Singapura. Ari mengatakan, rute tersebut dibuka semula karena Kementerian Pariwisata menjanjikan memberi dana Rp8miliar sebulan. Khusus rute Belitung-Singapura sebesar Rp8miliar untuk 6 bulan. Namun, janji tersebut belum juga direalisasikan.

Hal serupa juga berlaku untuk penerbangan ke London. Ari mengatakan, penerbangan ke London akan ditutup setelah Lebaran.

“Untuk London pasti kita akan tutup karena kita tidak bisa subsidi lagi. Sebelumnya, memang kita buka karena kita masih bisa mensubsidi. Sekarang kita menutup setelah Lebaran,” tandasnya.