Cerita Pesawat N250 (29) Teknologi Sudah Maju

Assalamualaikum semua …

Pada awal tahun 1990-an, masyarakat Indonesia, termasuk para pejabat tingginya, belum siap mengikuti langkah-langkah panjang Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN). Membangun pabrik perakitan N250-100 di AS misalnya, disebutnya mengada-ada. Padahal ini merupakan upaya untuk memasuki pasar terbesar dengan merebut tumpuan pendaratan yang implikasi positifnya sangat luas.

Masyarakat Indonesia juga menganggap pembangunan pesawat N250 dengan teknologi fly-by-wire sebagai “omong besar”. Padahal ini pun sebagai antisipasi IPTN masa depan. Fly-by-wire adalah kecenderungan teknologi pesawat terbang masa depan sebelum melangkah menuju teknologi fly-by-light.

Satu lagi anggapan “miring” kala itu. Mereka beranggapan bahwa pesawat baling-baling (propeller) itu menggunakan teknologi yang ketinggalan zaman. Maka mereka merasa lebih aman terbang dengan pesawat jet.

Sebenarnya pemilihan mesin; jet (turbofan) atau turboprop, disesuaikan dengan rancangan penggunaan pesawat terbang. Untuk jarak dekat dan sedang atau di bawah 400mil laut, turboprop lebih ekonomis. Dengan mesin jet, pesawat harus terbang tinggi untuk mendapatkan efisiensi.

Teknologi propeller juga sudah berkembang dan dianggap menantang. Apa yang sebelumnya tak bisa dilakukan propeller, sekarang jadi bisa. Di sinilah N250 berada; bergerak dengan turboprop berkecepatan tinggi, tapi terbang untuk jarak pendek dan sedang. Peruntukannya sebagai feeder, komuter ini terbang poin ke poin dan memasok penumpang bagi pesawat berbadan lebar yang terbang jarak jauh atau sebaliknya.

N250 dirancang bersayap tinggi dengan mesin ganda berkecepatan jelajah maksimum 330knot/jam (616km/jam). Ini kecepatan tertinggi di kelasnya, setara dengan kecepatan Fokker F-28 bermesin jet. Dengan demikian, memungkinkan N250 sampai di tempat tujuan jarak dekat atau sedang hanya berselisih beberapa menit dari pesawat jet.

Lebar kabinnya dirancang 107,7inci, lebih lebar dari pesaing-pesaingnya, dengan tempat duduk sebaris empat kursi. Kabin juga pressurized dan berpendingin penuh, sehingga tak akan merasa terlalu beda atmosfer dengan pesawat berbadan lebar. Tingkat kebisingannya rendah dengan suara mesin yang halus.

Pembuatan N250 diperuntukan menyongsong era abad ke-21. Digerakkan oleh dua mesin Allison AE2100C dengan enam bilah baling-baling. Menerapkan sistem kendali fly-by-wire untuk memberi peluang bagi pilot bisa mengendalikan pesawat terbang dengan aman dan teliti.

Dalam sistem fly-by-wire, pilot mengirimkan informasi ke bidang kemudi di sayap dan ekor lewat kabel. Di antara pilot, flaps, dan rudder, ditempatkan micro processor. Kalau pilot pingsan atau tak bisa mengendalikan, mini computer di micro processor akan mengambil-alih dan mengadakan koreksi.

Bagaimana jika mesin mati yang menyebabkan generator mati, padahal fly-by-wire hidup karena listrik? Di hidung N250 ada ram jet. Karena generator mati, ram jet yang berbaling-baling ini dengan sendirinya akan jatuh ke luar. Karena pesawat masih meluncur, baling- baling ram jet berputar menghidupkan generator. Kalau sistem ini gagal, masih ada dukungan cadangan mekanis.

Penerapan sistem fly-by-wire penuh (three axis) meningkatkan kualitas operasional penerbangan dan perawatannya juga bisa disederhanakan. Teknologi maju memang dimaksudkan untuk mengurangi biaya operasi.

Kaitannya kemudian adalah dengan kokpit modern yang memiliki sistem avionik sesuai tututan eta 2000-an. Sistem avionik N250 memiliki integrated digital avionic suites. Menggunakan electronic flight instrument system (EFIS) dan dilengkapi integrated avionic processor system (IAPS) dengan empat layar; dua untuk primary flight display dan dua untuk multifunction display.

N250 dirancang untuk memenuhi kebutuhan transportasi udara di Indonesia. Maka maskapai penerbangan nasional dan para pilot berpengalaman juga diajak diskusi untuk perancangannya. Bahkan airline luar negeri juga diajak dialog untuk menjawab tantangan dunia.

Rancangan N250 untuk perakitan di Amerika Serikat dibuat untuk seri 100 atau N250-100. Pesawat ini didesain bisa mengangkut 64-68 penumpang dengan daya jelajah 800mil laut. Jauh gelinding lepas landas dan mendaratnya 1.219 meter, sementara batas ketinggian maksimum 7.620 meter.

IPTN harus cepat menembus langit. Ini yang didengungkan ketika N250 roll out. Besok di cerita ketigapuluh (30) ya.