Cerita Pesawat N250 (28) Bidik Pasar Internasional

Assalamualaikum semua …

Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) optimis meraih pasar Amerika Serikat dan internasional yang berdasarkan pemetaannya sudah jelas. Titik impas penjualan N250 yang sejumlah 259 pesawat dengan harga 10-13juta dollar AS per unit optimis pula diraihnya.

IPTN juga tak harus repot membuat pesawat terbang dari awal. Hanya dari merakit, bisa mendapat bagian 39 persen dari total penjualan. Disebut-sebut juga bahwa AS akan mendapat 50 persen dari price tag 11juta dollar AS per unit. Indonesia hanya memperoleh 20 persen dari price tag itu, sedangkan 30 persennya dibagikan untuk Prancis, Inggris, dan Jerman, termasuk biaya transportasi, kemasan, dan asuransi.

“Tak apa-apa karena dulu tidak dapat apa-apa, sekarang dapat 20 persen. Lumayan kan?” ujar BJ Habibie (Angkasa No.8 Tahun IV Mei 1994). Bagian dari 20 persen itu akan dimanfaatkan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta rekayasa produk-produk canggih, seperti derivatif N250 dan N2130.

Untuk penjualan N250, Habibie selalu optimis. Sampai akhir 1994, ia menyebut angka 188 pesawat yang terjual. IPTN sudah menandatangani permintaan N250 sejumlah itu dengan berbagai maskapai penerbangan nasional dan pabrikan.

Merpati Nusantara Airlines memesan 100 pesawat, Bouraq Indonesia 62 unit, dan Sempati Air 16 unit, yang penandatangannya dilakukan di Asian Aerospace 1992 di Singapura. Pabrik pesawat di AS yang biasa memroduksi pesawat eksekutif, Gulfstream, juga memesan 10 pesawat.

Sempati Air menyetujui pembelian enam pesawat N250 dengan 10 unit opsional. “Pesawat N250 buatan IPTN ini untuk memenuhi layanan armada angkutan udara kami menjelang tahun 2000,” ujar Hasan Soedjono, Direktur Utama Sempati Air (Angkasa No.6 Tahun II Maret 1992).

Habibie mengatakan, adanya 188 pesanan N250 merupakan prestasi karena sudah 73 persennya dari titik impas 259 unit terjual. Padahal pesawat komuter ini belum diproduksi.

Target penjualan N250 adalah 707 unit sampai tahun 2020. Perinciannya, penjualan di domestik 400 pesawat dan sisanya untuk pasar internasional. IPTN sudah menganalisis bahwa pasar pesawat terbang sekelas N250 di dunia pada tahun 2000-2020 akan mencapai 4.500 unit atau 225 pesawat per tahun. Sepertiga dari kebutuhan itu untuk kawasan North American Free Trade Agreement (NAFTA).

Tentang pembangunan perakitan N250-100 di kota Mobile, Alabama, dengan investasi sekitar 100juta dollar AS itu, Habibie menyebutnya sebagai strategi untuk meraup pasar internasional, khususnya AS. Kebutuhan pesawat 50-70 penumpang di sana cukup tinggi, tapi tak ada satu pun yang memroduksinya.

Beda dengan di Eropa, yang memiliki pesawat ATP dari British Aerospace (BAe) serta ATR dari Aerospatiale dan Alenia. Di belahan Amerika lainnya, seperti Kanada memiliki Dash-8 dari de Haviland dan Brazil dengan Embraer-nya.

Sebenarnya IPTN sudah sejak tahun 1991 berancang-ancang untuk memiliki pabrik di negeri Paman Sam itu. Ketika jalinan persahabatan dengan Boeing begitu erat, IPTN mendirikan IPTN North America (INA) di kompleks Boeing di Seartle.

Cabang IPTN di AS itulah yang ditugaskan mendirikan American Regional Aircraft Industry (AMRAI), perusahaan patungan antara IPTN dengan pihak asing. AMRAI bertugas memasarkan N250-100 rakitan AS di kawasan NAFTA.

Setelah N250 rampung dan diproduksi, tiap minggu akan lahir tiga pesawat: dua dari pabrik di AS dan satu di IPTN. Bukan berarti tanggung jawab pabrik di Bandung itu hanya memroduksi satu pesawat per minggu karena punya kewajiban juga untuk menyediakan seluruh primary structure N250 untuk perakitan di AS.

Sayangnya waktu itu masyarakat Indonesia, termasuk para pejabat tingginya, belum siap mengikuti langkah-langkah panjang IPTN. Ulasannya ada di cerita kedua puluh sembilan (29) besok ya.