Cerita Pesawat N250 (27) Pabrik Perakitan di AS

Assalamualaikum semua …

Direktur Utama Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) BJ Habibie mengumumkan rencananya untuk membangun pabrik perakitan pesawat terbang di Amerika Serikat. Predikat “The Small Man with Big Vision” dari salah satu majalah ekonomi pun diberikan kepada Habibie di ajang Asian Aerospace 1994 di Singapura.

Predikat itu disematkan bukan mengada-ada karena Habibie memang melakukan lompatan besar jauh ke depan di balik big vision-nya. Tak ada yang menduga kalau Indonesia bakal membangun pabrik perakitan pesawat terbang di bumi Amerika Serikat. Apalagi pasar AS sangat susah ditembus.

“Memang tidak diperkirakan dunia bahwa negara berkembang bisa loncat dan membuat pesawat terbang. Apalagi membuatnya di bumi negara maju,” ujar Habibie (Angkasa No.8 Tahun IV Mei 1994). Rencananya, perakitan N250 di AS akan dimulai tahun 1997 dan untuk pembangunan pabrik ini sudah disetujui Presiden dan DPR RI.

Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) ingin memasarkan pesawat N250 di AS dan Eropa untuk meraup pasar pesawat komuter di dua benua yang memiliki industri penerbangan yang maju itu. Kiat memasarkannya adalah membangun pabrik perakitan pesawat terbang di AS dengan menanam investasi sendiri atau mengajak investor AS. Sementara di Eropa dengan cara kerja sama, yang kemungkinannya menggadeng British Aerospace (BAe).

Peluang tersebut ditangkap Habibie karena walaupun AS sebagai “raja” pembuat pesawat terbang, tapi tidak memroduksi pesawat komuter 50-70 penumpang. AS hanya memroduksi pesawat kecil di bawah 20 penumpang dan di atas 100 penumpang serta yang jumbo dengan 400-an penumpang. Padahal lalu lintas udaranya, yang pada awal 1990-an menerbangkan lebih dari 400 juta penumpang per tahun, sebagian diterbangi oleh pesawat komuter buatan asing.

Maka dijajakilah pembangunan pabrik perakitan pesawat N250-100 di AS itu. Tahap awal adalah pemilihan lokasi dan Habibie mendatangi empat lokasi berdasarkan rekomendasi pabrik Boeing, McDonnell Douglas, General Dynamics, dan Hughes.

Pilihan pertama adalah Alabama dekat Wichita, yang ada fasilitas pabrik pesawat Boeing. Sementara yang kedua di Kansas dan ketiga di Oregon, tempat fasilitas McDonnell Douglas, Hughes, dan Honeywell. Selanjutnya, Habibie mengunjungi Utah. Di lokasi-lokasi ini sudah ada industri dirgantara, sehingga kendala sumber daya manusia bisa diatasi.

Rupanya para investor banyak pula yang berminat. Sampai Juni 1994, sudah ada tiga delegasi dari negara bagian AS, yakni Arizona, Kansas, dan Alabama, berkunjung ke Indonesia. Tiga delegasi lain, yaitu dari Utah, Ohio, dan Oregon, menyusul datang.

Mereka tertarik karena N250 yang dirakit di AS nanti akan menggunakan 80 persen unsur atau komponen lokal AS. Walaupun kemudian unsur lokal AS berkurang jadi 69 persen, yakni avionik, mesin, dan sistem hidrolik. Selebihnya, seperti perangkat roda (landing gear) dan sistem kendali fly-by-wire, didatangkan dari Prancis, Inggris, dan Jerman.

Dari kunjungan Habibie ke AS itu, IPTN mengicar tiga tempat, yakni Portland di Arkansas, Phoenix di Arizona, dan Mobile di Alabama. Akhirnya, kota Mobile di negara bagian Alabama dipilih Presiden Soeharto sebagai tempat perakitan N250-100.

Untuk membangun pabrik perakitan N250-100 itu, IPTN mendirikan American Regional Aircraft Industry (AMRAI). Sebelum dipilih Presiden, ada 26 kota di tujuh negara bagian yang mengajukan penawaran sebagai lokasi pabrik. Sempat pula IPTN mempertimbangkan kota Macon di negara bagian Georgia, tapi kota Mobile yang terpilih karena sewa tanah lebih murah; hanya 1 dollar AS per tahun untuk lahan seluas 14,5 hektare yang dibutuhkan AMRAI.

Waktu berkunjung ke Indonesia, Gubernur Alabama, Jim Folsom memang menawarkan area di kota Mobile dengan berapi-api. Katanya, Mobile memiliki banyak keuntungan, seperti ada industri dirgantara yang eksis, banyak tenaga terampil di bidang dirgantara yang berpengalaman, dan bagus untuk investasi. Contohnya, Mercedez Benz juga sudah membuka peluang kerja sama dengan Alabama.

Memang terbukti pilihan IPTN tak meleset, kalau memang terwujud. Tahun 2013, Airbus membuat pabrik di kota Mobile, yang dikenal dengan nama “Mobile Brookley Aeroplex” untuk membuat pesawat A320.

Habibie selalu optimis, termasuk dalam hal penjualan N250. Berapa saja prediksinya? Digambarkan besok dalam cerita kedua puluh delapan (28) ya.