Cerita Pesawat N250 (26) Jelang Roll Out

Assalamualaikum semua …

Roll out atau penggelindingan pertama pesawat terbang dari hanggar untuk dpertontonkan kepada publik merupakan sarana yang penting untuk promosi. Pesawat N250 buatan bangsa Indonesia yang dibangun di Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) ini sampai pada tahap untuk lebih gencar dipublikasikan dan dipromosikan.

Tentu saja setelah roll out, “pekerjaan rumah” IPTN kian berat. Apakah N250 bisa terbang tepat waktu sesuai yang ditargetkan? Sebelum roll out pun ada setitik keraguan, apakah pembuatan N250 bisa selesai? Mereka optimis, bisa!

“Setelah melihat fuselage prototipe itu, sesudah melihat sayapnya ada di jigs, saya percaya bahwa penyiapan N250 itu maju pesat. Percaya bahwa pesawat itu bisa digelindingkan keluar pabrik November mendatang dan prototipenya dapat terbang tahun depan.”

Itu laporan Idrus Ismail, redaktur senior Angkasa yang Kolonel TNI AU, langsung dari IPTN Bandung. Beruntung Idrus, yang meninggal dunia Januari 1997 itu, bisa melihat langsung ke hanggar, tempat badan bakal pesawat N250 itu dikerjakan. Padahal area itu tertutup bagi orang-orang yang tak memiliki izin khusus. Apalagi sampai memotretnya.

Hasil laporannya ia tulis di majalah Angkasa No.7 Tahun IV April 1994. Tulisannya disarikan dalam buku “Jejak Emas Pembuatan N250 Upaya Menguasai Iptek Penerbangan”, yang diceritakan lagi di sini.

Kata Idrus, kita mampu merencanakan dan membuat jigs saja merupakan prestasi bangsa. Keberhasilan membuat jigs atau jagrog pembuatan pesawat terbang yang sangat presisi itu patut diacungi jempol dan dibanggakan.

Jigs tersebut dibuat di PT Barata Indonesia di Surabaya. Perusahaan ini merupakan salah satu dari 10 industri di bawah naungan Badan Pengelola Industri Strategis (BPIS).

Ketatnya penjagaan dan tidak boleh ada pemotretan oleh orang-orang di luar pekerja IPTN memang diterapkan pabrik pesawat terbang di dunia. Idrus pernah mengalaminya ketika berkunjung ke CASA di Spanyol. Kameranya ditahan ketika akan melihat engineering mock-up pesawat CASA 101. Padahal baru mock-up kelas satu, berupa model pesawat berskala 1:1 dari kayu yang masih sederhana dan belum jelas bentuknya.

Rahasia-merahasiakan itu memang perlu. Namun apakah di negeri ini perlu seketat itu? Saingan-saingan N250 diakui atau tidak, sudah jelas. Sebut pesawat ATP, ATR, Saab 2000, Dash-8, dan Fokker F-70, yang semuanya sudah terbang, selain ada juga CASA 3000.

Ada satu hal yang tidak dapat tertandingi saingan-saingan itu; pada masa datang negeri kepulauan ini memerlukan ratusan pesawat terbang sekelas N250. IPTN dapat memgamankan pasar ini. Jadi, walaupun tidak harus dengan penjagaan ketat, tapi tidak boleh sembrono.

Sayangnya waktu itu masyarakat Indonesia belum siap melihat langkah-langkah panjang IPTN. Apalagi mendengar akan membuat pabrik perakitan di Amerika Serikat. Ceritanya lanjut pada cerita kedua pulun tujuh (27) ya.