Cari Dana US$900Juta, Garuda Indonesia Mau Bayar Utang

Garuda Indonesia berencana mencari dana sebesar US$900juta untuk membayar utang. Tercatat, perseroan memiliki utang jatuh tempo dalam satu tahun sebesar US$1,63miliar dan utang jatuh tempo di atas satu tahun sebesar US$77juta.

“Hasil penerbitan instrumen keuangan dalam pendanaan ini akan digunakan untuk pembiayaan kembali atau pelunasan sebagian atau seluruh utang, sehingga proporsi utang keuangan yang jatuh tempo di atas satu tahun tidak akan lebih kecil dibandingkan utang jatuh tempo dalam satu tahun,” papar manajemen Garuda Indonesia dalam keterangan resminya, Senin (16/12/2019).

Untuk mencukupi pendanaan tersebut, perseroan mempertimbangkan tiga opsi. Opsi pertama adalah melalui penerbitan sukuk global senilai US$750juta. Sukuk ini memiliki jatuh tempo paling lambat 2024 atau periode lain yang disetujui para pihak terkait.

Penerbitan sukuk ini tidak dijamin dengan jaminan khusus. Dana dari penerbitan sukuk global akan digunakan untuk pembiayaan kembali sukuk global yang diterbitkan pada 2015 dan akan jatuh tempo pada Juni 2020.

Kedua, perseroan juga mempertimbangkan opsi private placement obligasi senilai US$750juta. Obligasi ini memiliki jatuh tempo paling lambat 2024 dan akan digunakan untuk pembiayaan kembali utang perseroan.

Sedangkan opsi terakhir adalah skema peer to peer lending dengan nilai sekitar US$500juta. Skema ini akan dilakukan dengan jaminan 20 persen dari nilai transaksi melalui penerbitan standby letter of credit (SBLC) selama 365 hari.

Transaksi yang akan dilakukan melebihi 50 persen dari ekuitas perseroan senilai US$ 730,14 juta. Dengan demikian, jajaran direksi akan meminta persetujuan dari pemegang saham.

Seperti diketahui, jajaran direksi Garuda Indonesia saat ini sebagian besar bukan pejabat definitif, termasuk direktur utama. Lima dari tujuh direksi dicopot oleh Menteri BUMN, Erick Thohir lantaran diduga terlibat kasus penyelundupan motor gede dan sepeda lipat dalam ferry flight pesawat Airbus A330-900neo maskapai. Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) akan dilakukan pada 22 Januari 2020 untuk menunjuk para direksi baru.

Sebelumnya, Plt Direktur Utama Garuda Indonesia, Fuad Rizal mengatakan bahwa Garuda Indonesia memiliki global sukuk jatuh tempo senilai US$500 juta pada 2020. Sukuk global tersebut sebelumnya diterbitkan perseroan tahun 2015.

Dikutip dari Investor Daily (16/12/2019), Fuad mengatakan bahwa pihaknya mengkaji sejumlah opsi untuk pelunasan utang tersebut, salah satunya dengan kembali menerbitkan sukuk global pada Februari 2020. Namun, perseroan belum menetapkan besaran nilai obligasi yang akan diterbitkan.

Hingga kuartal III 2019, maskapai ini mampu meraup total laba bersih sebesar US$122,8juta. Angka ini naik signifikan dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya saat mencatatkan rugi bersih US$127,97juta.