Buku Pelaut Goes to Campus, Pangkas Birokrasi Cegah Pungutan Liar

Read Time:1 Minute

Taruna sekolah dan kampus pelayaran tak lagi harus datang ke kantor syahbandar untuk memiliki Buku Pelaut (Seaman’s Book). Cukup melakukan pemberkasan dan diserahkan pada manajemen sekolah, yang kemudian diambil pihak kantor syahbandar, Buku Pelaut akhirnya dikirim ke kampus-kampus dan sekolah-sekolah.

Buku Pelaut merupakan dokumen resmi sebagai pendukung bagi mereka yang bekerja di kapal. Untuk mendapatkannya, para taruna sebelumnya harus datang ke kantor syahbandar dengan proses yang cukup sulit, bahkan seringkali ada pungutan yang tak resmi atau liar.

“Permintaan untuk membuat Buku Pelaut tinggi, terutama di Jawa Tengah dan DI Yogyakarta. Maka kami fasilitasi dengan cara jemput bola; datang ke kampus dan sekolah,” kata Arif Toha, Plt Dirjen Perhubungan Laut, yang secara virtual hadir dalam diskusi bersama media “Buku Pelaut Goes to Campus” di Semarang, Jumat (28/1/2022).

Arif mengatakan, program “jemput bola” seperti “Buku Pelaut Goes to Campus” menjadi salah satu upaya reformasi birokrasi. “Ini sebagai  bentuk pelayanan publik yang dilakukan secara masif dan bisa mengurangi biaya. Program serupa, yang merupakan inovasi dalam pelayanan publik, diharapkan bisa dilakukan juga di seluruh Indonesia,” ucapnya.

Sementara itu, Direktur Perkapalan dan Kepelautan, Ahmad Wahid yang hadir di Semarang menyampaikan, penerbitan Buku Pelaut dipermudah dengan “jemput bola” dan dengan sistem online.  Saat ini sudah 84 pelabuhan yang terkoneksi sistem online dan secara bertahap akan terus dikembangkan untuk pelabuhan-pelabuhan lain.

Menurut Kepala KSOP Kelas I Tanjung Emas M. Tohir, sejak tahun 2019 program “Buku Pelaut Goes to Campus” dilaksanakan di wilayahnya. Program itu terus berlanjut, apalagi pada masa pandemi covid-19, kegiatan tersebut dilakukan dengan lebih efektif.

Ada tujuh kampus dan sekolah di wilayahnya untuk penerapan program tersebut. Yakni Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) Semarang, Politeknik Buni Akpelni, SMK Akpelni, SMK Wisudha Karya Kudus, Unimar Amri Semarang, dan SMK Pancasila Kartasura.

Dengan program itu, tahun 2019 KSOP Kelas I Tanjung Emas mengeluarkan 236 Buku Pelaut, disusul 883 buku tahun 2020, dan 927 buku tahun 2021. “Dalam Tahun berjalan ini, sudah diproses 288 Buku Pelaut,” ujar Tohir.

Lama proses pembuatan Buku Pelaut adalah tiga hari, setelah pemberkasan lengkap. Kata Tohir, dalam sehari 75-100 buku bisa dikeluarkan. Biaya pembuatanya Rp150.000, yang masuk sebagai pendapatan negara bukan pajak.

Pada diskusi itu, hadir pula Direktur PIP Semarang, Capt. Dian Wahdiana. Dia menyampaikan bahwa dengan adanya program “Buku Pelaut Goes to Campus” lebih memudahkan taruna untuk mendapatkannya. “Dalam tiga hari setelah pemberkasan diambil, KSOP sudah mengirimkan hasilnya,” ujarnya.

Foto: Indoaviation