Fri. Feb 28th, 2020

Buku Hasil Penelitian Internasional Jadi Referensi Tingkatkan Daya Saing Pelabuhan di Indonesia

                                   

Untuk meningkatkan daya saing pelabuhan-pelabuhan di Indonesia, buku hasil penelitian internasional dari University of Melbourne yang digawangi Colin Duffield bekerja sama dengan Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Gajah Mada (UGM) bisa jadi referensi. Buku ini memberikan vitamin baru, khususnya bagi Kementerian Perhubungan dalam melihat aspek infrastruktur dan ekosistem pelabuhan.

Demikian disampaikan Staf Khusus Menteri Perhubungan Bidang Ekonomi dan Investasi Transportasi Prof. Wihana Kirana pada peluncuran buku “Infrastructure Investment in Indonesia: A Focus on Ports” di Jakarta, Selasa (21/1/2020). “Buku ini menginspirasi dalam melihat kelebihan pelabuhan di Australia, terutama ekosistemnya, regulasinya, dan sistem prosedurnya. Kita juga ingin belajar tentang sumber daya manusianya,” ujarnya.

Menurut Wihana, dari buku tersebut Kementerian Perhubungan bisa belajar untuk bisa mengembangkan pelabuhan di Labuan Bajo dan Raja Ampat. “Kita akan kembangkan khusus pelabuhan yang melayani turis. Dari studi ini kita bisa melihat tentang integrasi antarmoda.”

Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Arif Toha mengatakan, Kementerian Perhubungan terus mendorong pihak swasta serta memberi kesempatan dan membuka peluang untuk mengelola pelabuhan. Hal ini sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran.

“Kita sudah coba simulasikan dan mengkaji sistem investasi di Indonesia, khususnya dalam pengelolaan pelabuhan. Ada 630 pelabuhan di Indonesia, yang pengembangannya masih dengan APBN,” ujarnya.

Sistem Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) sudah mulai dijalankan. Ada tiga pelabuhan, yakni Patimban, Anggrek, dan Baubau, yang akan berproses untuk skema KPBU itu. Pelabuhan Baubau mulai proses pada trisemester pertama, Patimban pada Juli 2020, dan Anggrek pada trisemester ketiga.

Tentang investasi tersebut, menurut Asean Eng dan President Indonesia Strategic Management Society dari UI, Sari Wahyuni, memang belum maksimal diupayakan. “Persoalan ini sebenarnya hampir sama dengan pengelolaan pelabuhan di Australia,” ucapnya.

Hal tersebut senada dengan apa yang disimpulkan dalam buku tersebut. Seperti diungkapkan Colin Duffield bahwa investasi untuk infrastruktur pelabuhan di Indonesia hampir sama dengan di Australia. “Di kedua negara ada pertumbuhan tuntutan untuk investasi tambahan. Ada banyak sinergi antara negara kita, tapi sayangnya banyak bencana alam,” ucapnya.

Persoalan lain di pelabuhan Indonesia diungkap pula oleh Kepala Pusat Studi Transportasi UGM Prof. Dr. Ir. Agus Taufik Mulyono, MT, IPU. Tantangannya adalah yang pertama pada persoalan pelabuhan sebagai simpul, bagaimana standarisasi dan indikator kinerjanya. Kedua adalah adanya ruang antarpelabuhan dan ketiga tentang manajemen transportasi laut.

Terlepas dari hal tersebut, Arif menegaskan bahwa Ditjen Perhubungan Laut siap mendukung dan berkolaborasi dengan semua pihak untuk terus mengembangkan pelabuhan di Indonesia. “Mari kita bersama-sama berkolaborasi untuk mewujudkan pelabuhan di Indonesia yang lebih efisien, lebih cepat, transparan, dan kompetitif.”

Foto: Humas Ditjen Hubla