Wed. Jun 3rd, 2020

Bukan Maskapai, Penumpang Pesawat yang Dapat Insentif

Ilustrasi penumpang pesawat. Sumber gambar: BBC.

                                   

Direktur Jenderal Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Novie Riyanto Rahardjo menegaskan bahwa insentif yang akan diberikan pemerintah untuk menstimulus industri penerbangan dalam menggeliatkan sektor pariwisata bukan serta-merta untuk maskapai, namun diberikan langsung bagi penumpang pesawat.

“Insentif ini bukan kepada maskapai, tapi langsung kepada penumpang. Insentif yang diberikan adalah end-to-end, artinya adalah dari pemerintah bersama beberapa pelaku pelayanan (memberikan) langsung kepada penumpang,” terang Novie kepada awak media di Jakarta, Selasa (25/2/2020) sore.

Novie menyebutkan, penumpang yang mendapatkan insentif ini hanya seperempat dari total ketersediaan kursi pesawat.

“Itungan kami adalah 25 persen seat capacity. Kalau pesawatnya seri 737-800 dengan rata-rata 180 pax, itu kurang lebih maksimalnya 45 orang (yang dapat insentif),” urainya.

Baca Juga:

Insentif untuk Maskapai Masih Dikalkulasikan oleh Pemerintah

Insentif Bagi Maskapai, Menhub Usul Harga Avtur Turun 20 Persen

Besaran insentif yang diterima penumpang beragam, tergantung kategori layanan maskapai yang dipilih. Untuk maskapai kategori full services, 25 persen penumpang akan mendapatkan insentif sebesar 45 persen dari harga tiket. Sementara bila menggunakan jasa maskapai medium services, penumpang akan mendapatkan insentif sebesar 48 persen. Sedangkan maskapai dengan layanan no frill atau LCC penumpang mendapatkan 50 persen insentifnya.

Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan telah menyiapkan dana dari APBN untuk menanggung 30 persen dari besaran insentif tersebut.

“APBN 30 persen, kalau di-Rupiahkan, berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan itu sekitar Rp500-550miliar angkanya,” kata Novie.

Insentif ini hanya berlaku untuk 10 dentinasi prioritas. Yakni Batam, Denpasar, Jogjakarta, Labuan Bajo, Lombok, Malang, Manado, Silangit, Tanjung Pandan, dan Tanjung Pinang.

“(Insentif) itu berlaku dalam jangka waktu tiga bulan, pada saat low season (tahun) ini, mulai Maret-April-Mei,” tandasnya.