Fri. Feb 28th, 2020

Boeing: Maskapai di Asia Tenggara Butuh 4.500 Pesawat Baru

MAX10 Reveal

Untuk pertama kalinya Boeing perkenalkan pesawat 737 MAX 10 ke publik (22/11/2019). SUmber gambar: Boeing.

                                   

Boeing Company memperkirakan maskapai-maskapai di Asia Tenggara akan memerlukan 4.500 pesawat terbang baru dalam 20 tahun mendatang. Jumlah tersebut setara dengan US$710miliar berdasarkan daftar harga.

Menurut pabrikan pesawat asal AS tersebut, pesawat lorong tunggal masih menjadi pendorong pertumbuhan kapasitas utama di Asia Tenggara. Pertumbuhan ini membantu memicu permintaan jasa penerbangan, yang diperkirakan akan mencapai US$785milyar hingga tahun 2038.

“Tiga negara dari Asia Tenggara, Vietnam, Thailand dan Indonesia duduk dalam daftar 10 negara terbesar penambahan kapasitas kursi maskapai terbanyak sejak 2010,” kata Wakil Presiden Pemasaran Komersial The Boeing Company, Randy Tinseth, Randy Tinseth, Rabu (12/2/2020).

Baca Juga:

DORSCON Oranye, Boeing Batal Bawa ecoDemonstrator ke Singapore Airshow

Di Langit Washington Boeing 777X Terbang Perdana Hampir 4 Jam

Menurutnya, Vietnam telah mengalami pertumbuhan terkuat di kawasan, dengan tingkat hampir 15% per tahun. Kemudian diikuti Thailand dan Indonesia yang masing-masing tumbuh 10%.

“Dengan kelas menengah yang meningkat di pasar yang terus mengalami liberalisasi, ditambah dengan sektor pariwisata domestik, regional, dan internasional yang kuat, Asia Tenggara telah menjadi salah satu pasar aviasi terbesar dunia.”

Selain itu, dia juga mengatakan bahwa kawasan ini juga memerlukan pesawat terbang berbadan lebar dalam jumlah yang signifikan. Menurutnya, permintaan ini didorong oleh maskapai yang beradaptasi dengan lingkungan bisnis yang berevolusi dan peluang ekspansi jangka panjang. Pesawat berbadan lebar akan memperoleh 19% dari pengiriman pesawat baru, memungkinkan maskapai di kawasan ini.

Secara global, Boeing memproyeksikan kebutuhan pesawat terbang komersial baru mencapai 44.040 unit dengan nilai US$6,8triliun pada 20 tahun ke depan. Sementara permintaan terhadap layanan jasa purna jual sebesar US$9,1triliun untuk periode yang sama.