Berdayakan Balai Kalibrasi Jadi Pusat Layanan yang Hasilkan Profit

Balai Besar Kalibrasi Fasilitas Penerbangan (BBKFP) siap memasarkan produk-produk layanannya. Bukan hanya untuk kalibrasi fasilitas penerbangan, tapi juga layanan penerbangan carter, pusat pelatihan, MRO (maintenance, repair, overhaul) pesawat, penyewaan hanggar, dan jasa lainnya.

“Aset yang dimiliki kita berdayakan untuk menambah pundi-pundi kita sebagai badan layanan umum (BLU),” kata Bagus Sunjoyo, Direktur BBKFP di gedungnya di Curug, Tangerang, pada kegiatan kunjungan media dan humas ke balai-balai di lingkungan Ditjen Perhubungan Udara, Rabu (16/10/2019).

Setelah menjadi BLU pada Januari 2016, BBKFP memiliki berbagai sertifikasi untuk mendukung operasional penerbangan. Mulanya, balai yang sudah berkiprah hampir 40 tahun ini memiliki AC-171-5 untuk layanan kalibrasi, inspeksi, pengujian, dan kalibrasi peralatan navigasi penerbangan.

“Selain AirNav Indonesia dan pengelola bandara di Indonesia, kami juga sudah melakukan kalibrasi di Timor Leste. Saat ini, kami sedang melakukan pendekatan ke Vietnam dan negara-negara di Timur Tengah, juga Afrika dan Australia,” tutur Bagus.

Sampai saat ini pengkalibrasian yang dilakukan sudah 1.090 jam dari target 1.145 jam. Masih ada bandara yang akan dikalibrasi dengan pelanggan dari AirNav Indonesia, Angkasa Pura I, Angkasa Pura II, dan Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU).

Seiring perkembangannya, dimilikinya armada pesawat jet privat, twin turboprop, dan helikopter, BBKFP memberikan layanan carter udara dan evakuasi medis (medical evacuation) dengan mengantongi AOC-135. Armadanya adalah satu pesawat Hawker 900XP, dua helikopter Bell 429, serta satu twin turboprop King Air B200C, tiga King Air B200GT, dan satu King Air 350i.

BBKFP juga masih memiliki dua pesawat Learjet 31A yang dalam proses penghibahan. Di samping itu, ada satu lagi Bell 429 yang statusnya masih pengajuan. “Tahun depan (2020), kami sudah mengajukan untuk menambah satu pesawat jet,” ungkap Bagus.

Pelanggannya yang kerap menggunakan jasa BBKFP adalah Badan Keamanan Laut (Bakamla) untuk pengawasan perairan, juga Kementerian Kesehatan dan beberapa rumah sakit. Bagus menambahkan, “Kami juga menyediakan jasa penerbangan untuk VIP charter, baik pemerintah maupun swasta.”

Layanan lainnya adalah memberikan pelatihan bagi awak pesawat sesuai dengan Civil Aviation Safety Regulation (CASR) 142. BBKFP memiliki sertifikasi TC-142 dengan fasilitas simulator King Air B200GT konversi 350i (Full Flight Simulator FFS B200GT/KAB350i).

Kata Bagus, Angkatan Udara Australia dan flying doctor-nya pernah memanfaatkan simulator tersebut. Namun kapasitasnya masih bisa dimanfaatkan lagi. Maka pihak-pihak lain yang memiliki armada King Air tersebut, seperti di India, Thailand, Iran, Vietnam, ditawarkan untuk memanfaatkannya. “Sumber daya manusia kami sudah memiliki kualifikasi internasional,” ucapnya.

Satu lagi yang juga giat dipasarkan, yakni fasilitas MRO-nya. BBKFP memiliki sertifikasi AMO-145 dari Ditjen Perhubungan Udara, yang kapabilitasnya saat ini masih lebih banyak dimanfaatkan untuk perawatan armada sendiri. Ada juga swasta yang sudah masuk untuk perawatan, yakni pesawat Hawker 400 milik Elang Indonesia.

“Kita akan lengkapi manual-manualnya untuk layanan MRO itu. Untuk perawatan pesawat di luar yang kita punya, tenaga teknisi kita memang masih tandem dengan pemilik pesawat. Nanti kita akan sekolahkan,” tutur Bagus.

BBKFP saat ini memiliki 31 teknisi dan 28 pilot, dari 120 karyawan. Fasilitas yang dimilikinya, seperti hanggar, terus dibenahi karena tempat penyimpanan pesawat ini juga bisa disewakan. “Semua fasilitas kita berdayakan dan target pendapatan kita tahun ini 119 miliar rupiah, yang sampai saat ini sudan hampir tercapai,” ucap Bagus.

Foto: Reni