Mon. Oct 21st, 2019

Bandara Jenderal Besar Soedirman Ditargetkan Beroperasi Mei 2020

Maket calon Bandara Jenderal Besar Soedirman di Purbalingga. Sumber gambar: Kompas.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mendorong pembangunan Bandara Jenderal Besar Soedirman di Purbalingga, Jawa Tengah agar berjalan sesuai rencana. Dengan demikian, bandara ini diharapkan bisa beroperasi Mei 2020.

“Saya senang proyek berjalan baik, dan kita targetkan tahun ini runway bisa selesai dibangun, dan dilanjutkan dengan pekerjaan-pekerjaan lain hingga rampung dan bisa beroperasi pada Mei 2020,” kata Rini saat meninjau pembangunan runway bandara, Rabu (2/10/2019).

Sejumlah pekerjaan telah dilakukan sejak Mei 2019 meliputi pembersihan lahan untuk runway sepanjang 1.600 meter.

Di tempat yang sama, Direktur Utama Angkasa Pura II (AP II), Muhammad Awaluddin mengatakan, bandara ini akan berperan signifikan dalam mendorong perekonomian setempat, khususnya di 5 wilayah terdekat.

“Perekonomian di 5 wilayah yaitu Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap dan Kebumen.”

Ia menambahkan, runway merupakan salah satu infrastruktur penting yang menjadi prioritas pembangunan saat ini. Pada tahap I, runway dibangun untuk melayani operasional penerbangan pesawat ATR 72-600 dan sejenisnya. Hingga pada tahap III, bandara ini dapat didarati pesawat sekelas Boeing 737 dan Airbus A320.

Pembangunan terminal penumpang pesawat juga dilakukan bertahap. Pada tahap I berkapasitas 98.812 penumpang per tahun, tahap II berkapasitas 440.440 penumpang per tahun, kemudian tahap III berkapasitas sekitar 600.000 penumpang per tahun.

Selain itu, pembangunan tahap I juga mencakup apron untuk mengakomodir 3 unit pesawat ATR 72 dan sejenis.

Proyek bandara ini terletak di kawasan Pangkalan TNI AU Jenderal Besar Soedirman. Pada April 2019, AP II dan TNI AU menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) agar pembangunan infrastruktur sudah dapat dimulai.

AP II dan TNI AU juga telah menyepakati Daerah Lingkungan Kerja (DLKr). DLKr I seluas 4,42 hektare untuk diusahakan sebagai terminal kargo, terminal penumpang, bangunan operasional/perkantoran dan fasilitas sisi darat lainnya.

DLKr II seluas 43,5 hektare untuk penggunaan bersama (penerbangan sipil dan militer), meliputi runway, RESA (runway end safety area), stopway, taxiway, PKP-PK (Pertolongan Kecelakaan Penerbangan dan Pemadam Kebakaran), fasilitas bersama, dan pagar pengamanan bandara.

Baca ini juga ya!